<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Muhammad Nuruddin 071644036</title>
	<atom:link href="http://muhnuruddin.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muhnuruddin.wordpress.com</link>
	<description>Tugas Aplikasi Komputer Kelas C 2007</description>
	<lastBuildDate>Tue, 15 Dec 2009 07:57:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='muhnuruddin.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/47ce6924722605ac4ceedcd6875d7429?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Muhammad Nuruddin 071644036</title>
		<link>http://muhnuruddin.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://muhnuruddin.wordpress.com/osd.xml" title="Muhammad Nuruddin 071644036" />
	<atom:link rel='hub' href='http://muhnuruddin.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pengantar Fisafat Pendidikan</title>
		<link>http://muhnuruddin.wordpress.com/2009/12/10/pengantar-fisafat-pendidikan/</link>
		<comments>http://muhnuruddin.wordpress.com/2009/12/10/pengantar-fisafat-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 04:55:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muhnuruddin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhnuruddin.wordpress.com/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[Hubungan Filsafat dengan Pendidikan Oleh Muhammad Nuruddin Ilmu merupakan pengetahuan yang digumuli sejak sekolah dasar, pendidikan  lanjutan hingga perguruan tinggi. Ilmu membatasi lingkup penjelajahannya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan metode yang digunakan dalam menyusun yang telah teruji kebenarannya secara empiris. Filsafat membahas sesuatu dari segala aspeknya yang mendalam, maka dikatakan kebenaran filsafat adalah kebenaran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhnuruddin.wordpress.com&amp;blog=9961915&amp;post=60&amp;subd=muhnuruddin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Hubungan Filsafat dengan Pendidikan</p>
<p style="text-align:center;">Oleh <a></a><a></a><a href="http://www.flickr.com/photos/45394628@N03/4170751899/">Muhammad Nuruddin</a></p>
<p style="text-align:justify;">Ilmu merupakan pengetahuan yang digumuli sejak sekolah dasar, pendidikan  lanjutan hingga perguruan tinggi. Ilmu membatasi lingkup penjelajahannya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan metode yang digunakan dalam menyusun yang telah teruji kebenarannya secara empiris. Filsafat membahas sesuatu dari segala aspeknya yang mendalam, maka dikatakan kebenaran filsafat adalah kebenaran menyeluruh yang sering dipertentangkan dengan  kebenaran ilmu yang sifatnya relatif. Karena kebenaran ilmu hanya ditinjau dari segi yang bisa diamati oleh manusia saja. Sesungguhnya isi alam yang dapat diamati hanya sebagian kecil saja, diibaratkan mengamati gunung es, hanya mampu melihat yang di atas permukaan laut saja. Semantara filsafat mencoba menyelami sampai kedasar gunung es itu untuk meraba segala sesuatu yang ada melalui pikiran dan renungan yang kritis.<br />
<span id="more-60"></span><br />
Pendidikan merupakan salah satu bidang ilmu, sama halnya dengan ilmu-ilmu lain. Pendidikan lahir dari induknya yaitu filsafat. Filsafat diciptakan oleh manusia untuk kepentingan memahami kedudukan manusia, pengembangan manusia, dan peningkatan hidup manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">KATA PENGANTAR</p>
<p style="text-align:justify;">Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT karena atas rahmat-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah untuk memenuhi tugas dalam mata kuliah Pengantar Filsafat Pendidikan ini dengan tepat waktu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan makalah yang berjudul “Hubungan Antara Filsafat Dengan Pendidikan” ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa khususnya dan bagi pembaca lain pada umumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada seluruh pihak yang membantu atas terselesaikannya makalah ini. Seperti halnya pepatah, tak ada gading yang tak retak, begitu pula dengan penyusunan makalah ini yang masih jauh dari sempurna. Kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diperlukan untuk kesempurnaan dalam penyusunan makalah selanjutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Surabaya, November 2009</p>
<p style="text-align:justify;">Tim Penyusun</p>
<p style="text-align:justify;">PENDAHULUAN</p>
<p style="text-align:justify;">Ilmu merupakan pengetahuan yang digumuli sejak sekolah dasar, pendidikan  lanjutan hingga perguruan tinggi. Ilmu membatasi lingkup penjelajahannya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan metode yang digunakan dalam menyusun yang telah teruji kebenarannya secara empiris. Filsafat membahas sesuatu dari segala aspeknya yang mendalam, maka dikatakan kebenaran filsafat adalah kebenaran menyeluruh yang sering dipertentangkan dengan  kebenaran ilmu yang sifatnya relatif. Karena kebenaran ilmu hanya ditinjau dari segi yang bisa diamati oleh manusia saja. Sesungguhnya isi alam yang dapat diamati hanya sebagian kecil saja, diibaratkan mengamati gunung es, hanya mampu melihat yang di atas permukaan laut saja. Semantara filsafat mencoba menyelami sampai kedasar gunung es itu untuk meraba segala sesuatu yang ada melalui pikiran dan renungan yang kritis.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendidikan merupakan salah satu bidang ilmu, sama halnya dengan ilmu-ilmu lain. Pendidikan lahir dari induknya yaitu filsafat. Filsafat diciptakan oleh manusia untuk kepentingan memahami kedudukan manusia, pengembangan manusia, dan peningkatan hidup manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">PEMBAHASAN</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>A. PENDIDIKAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pendidikan, Jika dipahami dari pengertiannya maka kita bisa menggolongkan sebagai satu disiplin keilmuan yang mandiri, yaitu ilmu pendidikan. Ilmu pendidikan merupakan sebuah sistem pengetahuan tentang pendidikan yang diperoleh melalui riset. Riset tersaji dalam bentuk konsep-konsep, maka ilmu pendidikan dapat dibataskan sebagai sistem konsep pendidikan yang dihasilkan melalui riset. Disini kita akan menentukan objek formal ilmu pendidikan yang maha luas, luas terbatas tetapi juga diartikan sempit. Dalam pengertian maha luas, Pendidikan adalah segala situasi dalam hidup yang mempengaruhi pertumbuhan seseorang, bisa berupa pengalaman belajar sepanjang hidup, tidak terbatas pada waktu, tempat, bentuk sekolah, jenis lingkungan dan tidak terbatas pada bentuk kegiatannya. Pengertian kemaha-luasan tersirat pada tujuan pendidikannya.<br />
Dalam pengertian sempit, pendidikan adalah sekolah atau persekolahan (schooling). Pendidikan bisa diartikan pengaruh yang diupayakan dan direkayasa sekolah terhadap peserta didik agar mempunyai kemampuan sempurna dan kesadaran penuh terhadap hubungan dan tugas-tugas sosial mereka. Dengan kata lain pendidikan memperlihatkan keterbatasan dalam waktu, tempat, bentuk kegiatan dan tujuan dalam proses berlangsungnya pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam pengertian luas terbatas memberikan alternatif definisi pendidikan, yaitu dengan melihat kelemahan dari definisi pendidikan maha luas yang tidak tegas menggambarkan batas-batas pengaruh pendidikan dan bukan pendidikan terhadap pertumbuhan individu. Sedangkan kekuatannya terletak pada menempatkan kegiatan atau pengalaman-pengalaman belajar sebagai inti dalam proses pendidikan yang berlangsung dimanapun dalam lingkungan hidup, baik sekolah maupun di luar sekolah. Selanjutnya kelemahan dalam definisi sempit pendidikan, antara lain terletak pada sangat kuatnya campur tangan pendidikan dalam proses pendidikan sehingga proses pendidikan lebih merupakan kegiatan mengajar daripada kegiatan belajar yang mengandung makna pendidikan terasing dari kehidupan sehingga lulusannya ditolak oleh masyarakat. Adapun kekuatanya, antara lain terletak pada bentuk kegiatan pendidikannya yang dilaksanakan secara terprogram dan sistematis.</p>
<p style="text-align:justify;">Definisi alternatif adalah definisi dialektis yang memadukan pengertian-pengertian yang menjadi kekuatan pada definisi maha luas dan definisi sempit, sekaligus menghilangkan kelemahan-kselemahannya. Definisi alternatif merupakan definisi luas yang maknanya berisi berbagai macam pengalaman belajar dalam keseluruhan lingkungan hidup, baik di sekolah maupun di luar sekolah yang sengaja di selenggarakan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kondisi ideal berhubungan dengan tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan dapat dibedakan dalam dua macam, yaitu (1) Tujuan umum pendidikan atau tujuan akhir pendidikan dan (2) Tujuan khusus pendidikan. Tujuan umum pendidikan tertuju pada tujuan hidup. Tujuan khusus pendidikan dapat dibedakan menjadi : (1) Tujuan pendidikan tak lengkap, berkenaan dengan aspek – aspek kepribadian yang ingin dicapai (2) Tujuan pendidikan sementara, berkenaan dengan masa – masa pendidikan institusional, berkenaan dengan tujuan kelembagaan pendidikan dan (3) Tujuan pendidikan institusional, berkenaan dengan penguasaaan materi pelajaran atau jenis tingkah laku.</p>
<p style="text-align:justify;">Tujuan pendidikan tak lengkap dapat dibedakan menjadi : (1) Tujuan pendidikan jasmani, (2) Tujuan pendidikan kognitif, (3) Tujuan pendidikan keterampilan. Tujuan pendidikan sementara dapat dibedakan menjadi : (1) Tujuan pendidikan balita, (2) Tujuan pendidikan kanak – kanak, (3) Tujuan pendidikan anak sekolah, (4) Tujuan pendidikan remaja, dan (5) Tujuan pendidikan orang dewasa. Tujuan pendidikan institusional dapat dibedakan menjadi  (1) Tujuan pendidikan nasional, (2) Tujuan pendidikan sekolah, dan (3) Tujuan pendidikan satuan pendidikan luar sekolah.   Tujuan pendidikan instruksional dapat dibedakan menjadi : (1) Tujuan kurikuler dan (2) Tujuan insidental atau tujuan yang terdapat pada setiap kegiatan pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>B. FILSAFAT</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Istilah &#8220;filsafat&#8221; dapat ditinjau dari dua segi yakni dari segi semantik dan segi praktis. Dari segi semantik, kata ‘filsafat’ berasal dari bahasa Yunani “philosophia” yang berarti “philos” artinya cinta, suka, dan “sophia” artinya pengetahuan, hikmah. Jadi “philosophia” berarti cinta kepada kebijaksanaan, kearifan atau cinta kepada kebenaran. Maksudnya, setiap orang yang berfilsafat akan menjadi bijaksana. Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut “philosopher”. Dari segi praktis, dilihat dari pengertian praktisnya, filsafat berarti alam pikiran atau alam berpikir. Berfilsafat artinya berpikir. Namun tidak semua berpikir berarti berfilsafat. Berfilsafat adalah berpikir secara mendalam, sungguh-sungguh, radikal, sistematis dan rasional. Filsafat adalah hasil akal manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata lain: Filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu. Filsafat adalah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam tentang sesuatu sampai keakar-akarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Filsafat membahas sesuatu dari segala aspeknya yang mendalam, maka dikatakan kebenaran filsafat adalah kebenaran menyeluruh yang sering dipertentangkan dengan kebenaran ilmu yang sifatnya relatif. Karena kebenaran ilmu hanya ditinjau dari segi yang bisa diamati oleh manusia saja, sesungguhnya isi alam yang dapat dinikmati hanya sebagian kecil saja. Misalnya mengamati gunung es, hanya mampu melihat yang di atas permukaan di laut saja. Sementara itu filsafat mencoba menyelami sampai kedasar gunung es itu untuk meraba sesuatu yang ada dipikiran dan renungan yang kritis.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Obyek Filsafat</strong></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Obyek Material</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Kajian filsafat yang “ada”, kongkrit-abstrak, maujud-tidak maujud, materil immaterial, phisik-non phisik.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Obyek formal</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Sudut pandang filsafat dalam mengkaji obyek immaterialnya, yaitu:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Sudut Ontologi</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Merupakan hakekat segala sesuatu membicarakan subtansi, esensi dan realita yang tertuang dalam beberapa aliran yaitu aliran idealisme (bahwa kenyataan adalah ide, segala sesuatu berasal dari ide), materialisme (bahwa kenyataan adalah materi, materialisme merupakan bentuk natural), dan pluralisme (bahwa kenyataan itu banyak, tetapi mempunyai hubungan satu sama lain) Sunoto(2000:22-23). Selain itu ontology juga membahas tentang masalah “kebendaan” sesuatu yang dapat dilihat dan dibedakan secara empiris (kasat mata) , misalnya tentang kebera daan alam semesta, makhluk hidup,atau tata surya.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Sudut Epistemologi</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Menurut Popper epistemology memperjuangkan pengetahuan didasarkan oleh rasionalisme dalam arti luas yaitu belajar dari kesalahan dan terbuka untuk kerja sama mendekati kebenaran. Sehingga rasionalis yang fundamental merupakan hasil dari suatu tindakan kepercayaan pada akal sebagai basis kesatuan manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Kaelan, epistemology adalah cabang filsafat yang membahas tentang hakekat pengetahuan manusia, yaitu tentang sumber, watak, dan kebenaran pengetahuan (2002:28)</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Sudut Aksiologi</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Aksiologi adalah tema yang membahas tentang masalah nilai atau norma sosial yang berlaku pada kehidupan manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam garis besarnya ada empat cabang filsafat yaitu: metafisiska, epistemologi, logika, dan etika, dengan kandungan materi masing-masing sebagai berikut :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Metafisika adalah filsafat yang meninjau tentang hakekat segala sesuatu yang terdapat dialam ini. Dalam kaitannya dengan manusia, ada dua pandangan menurut Callahan (1983) yaitu :
<ol>
<li>Manusia pada hakekatnya adalah spritual. Yang ada adalah jiwa tau roh, yang lain adalah semu. Pendidikan berkewajiban membebaskan jwa dari ikatan semu. Pendidikan adalah untuk mengaktualisasikan diri, pandangan ini dianut oleh kaum Idealis, Scholastik, dan beberapa Realis.</li>
<li>Manusia adalah organisme materi. Pandangan ini dianut kaum Naturalis, Materialis, Eksprementalis, Pragmatis, dan beberapa Realis. Pendidikan adalah untuk hidup. Pendidikan berkewajiban membuat kehidupan menusia menjadi menyenangkan.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">b. Epistemologi adalah filsafat yang membahas tentang pergaulan dan kebenaran, dengan rincian masing-masing sebagai beikut :</p>
<p style="text-align:justify;">Ada lima sumber pengetahuan yaitu:</p>
<p style="text-align:justify;">(1). Otoritas, yang terdapat dalam ensiklopedia, buku teks yang baik, rums dan tabel.</p>
<p style="text-align:justify;">(2). Comman sense yang ada pada adat dan tradisi</p>
<p style="text-align:justify;">(3). Intuisi yang berkaitan dengan perasaan</p>
<p style="text-align:justify;">(4). Pikiran untuk menyimpulkan hasil pengelaman</p>
<p style="text-align:justify;">(5).Pengalaman yang terkontrol untuk mendapatkan pengetahuan secara ilmiah.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada empat teori kebenaran yaitu:</p>
<p style="text-align:justify;">(1). Koheren, sesuatu akan benar bila ia konsesten dengan kebenaan umum.</p>
<p style="text-align:justify;">(2). Koresponden, sesuatu akan benar bila ia dengan tepat dengan fakta yang jelas.</p>
<p style="text-align:justify;">(3). Pragmatisme, sesuatu dipandang benar bila konsekuensinya memberi manfaat bagi kehidupan.</p>
<p style="text-align:justify;">(4). Skeptivisme, kebenaran dicari secara ilmiah dan tidak ada kebenaran yang lengkap.</p>
<p style="text-align:justify;">c. Logika adalah filsafat yang membahas tentang cara manusia berpikir dengan benar. Dengan memahami filsafat logika diharapkan manusia bisa berpikir dan mengemukakan penadapatnya secara tepat.</p>
<p style="text-align:justify;">d. Etika adalah filsafat yang menguaraikan tentang perilaku manusia, Nilai dan norma masyarakat serta ajaran agama menjadi pokok pemikiran dalam filsafat ini. Filsafat etika sangat besar mempengaruhi pendidikan sebab tujuan pendidikan untuk mengembangan perilaku manusia, anatara lain afeksi peserta didik.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>T</strong><strong>UJUAN, FUNGSI DAN MANFAAT FILSAFAT</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Harold H. Titus, filsafat adalah suatu usaha memahami alam semesta, maknanya dan nilainya. Apabila tujuan ilmu adalah kontrol, dan tujuan seni adalah kreativitas, kesempurnaan, bentuk keindahan komunikasi dan ekspresi, maka tujuan filsafat adalah pengertian dan kebijaksanaan (understanding and wisdom).</p>
<p style="text-align:justify;">Dr Oemar A. Hoesin mengatakan: Ilmu memberi kepada kita pengatahuan, dan filsafat memberikan hikmah. Filsafat memberikan kepuasan kepada keinginan manusia akan pengetahuan yang tersusun dengan tertib, akan kebenaran. S. Takdir Alisyahbana menulis dalam bukunya: filsafat itu dapat memberikan ketenangan pikiran dan kemantapan hati, sekalipun menghadapi maut. Dalam tujuannya yang tunggal (yaitu kebenaran) itulah letaknya kebesaran, kemuliaan, malahan kebangsawanan filsafat di antara kerja manusia yang lain. Kebenaran dalam arti yang sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya baginya, itulah tujuan yang tertinggi dan satu-satunya. Bagi manusia, berfilsafat itu bererti mengatur hidupnya seinsaf-insafnya, senetral-netralnya dengan perasaan tanggung jawab, yakni tanggung jawab terhadap dasar hidup yang sedalam-dalamnya, baik Tuhan, alam, atau pun kebenaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Radhakrishnan dalam bukunya, History of Philosophy, menyebutkan: Tugas filsafat bukanlah sekadar mencerminkan semangat masa ketika kita hidup, melainkan membimbingnya maju. Fungsi filsafat adalah kreatif, menetapkan nilai, menetapkan tujuan, menentukan arah dan menuntun pada jalan baru. Filsafat hendaknya mengilhamkan keyakinan kepada kita untuk menompang dunia baru, mencetak manusia-manusia yang menjadikan penggolongan-penggolongan berdasarkan &#8216;nation&#8217;, ras, dan keyakinan keagamaan mengabdi kepada cita mulia kemanusiaan. Filsafat tidak ada artinya sama sekali apabila tidak universal, baik dalam ruang lingkupnya maupun dalam semangatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Studi filsafat harus membantu orang-orang untuk membangun keyakinan keagamaan atas dasar yang matang secara intelektual. Filsafat dapat mendukung kepercayaan keagamaan seseorang, asal saja kepercayaan tersebut tidak bergantung pada konsepsi prailmiah yang usang, yang sempit dan yang dogmatis. Urusan (concerns) utama agama ialah harmoni, pengaturan, ikatan, pengabdian, perdamaian, kejujuran, pembebasan, dan Tuhan. Berbeda dengan pendapat Soemadi Soerjabrata, yaitu mempelajari filsafat adalah untuk mempertajamkan pikiran, maka H. De Vos berpendapat bahwa filsafat tidak hanya cukup diketahui, tetapi harus dipraktekkan dalam hidup sehari-sehari. Orang mengharapkan bahwa filsafat akan memberikan kepadanya dasar-dasar pengetahuan, yang dibutuhkan untuk hidup secara baik. Filsafat harus mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup secara baik. Filsafat harus mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup agar dapat menjadi manusia yang baik dan bahagia. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan filsafat adalah mencari hakikat kebenaran sesuatu, baik dalam logika (kebenaran berpikir), etika (berperilaku), maupun metafisik (hakikat keaslian).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">HUBUNGAN  FILSAFAT  DENGAN  PENDIDIKAN</p>
<p style="text-align:justify;">Junjun (1981) membagi proses perkembangan ilmu menjadi dua bagian yang seling berkaitan satu dengan yang lain. Tingkat proses perkembangan yang dimaksud adalah:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><em>1. </em><em>Tingkat empiris</em> adalah ilmu yang baru ditemukan di lapangan. Ilmu yang masih berdiri sendiri, baru sedikit bertautan dengan penemuan yang lain sejenis. Pada tingkat ini wujud ilmu belum utuh, masing-masing sesuai dengan misi penemuannya karena belum lengkap.</li>
<li><em>2. </em><em>Tingkat penjelasan atau teoretis</em>, adalah ilmu yang sudah mengembangkan suatu struktur teoretis. Dengan struktur ini ilmu-ilmu emperis yang masih terpisah-pisah itu dicari kaitannya satu dengan yang lain dan dijelaskan sifat kaitan itu. Dengan cara ini struktur berusaha mengintergrasikan ilmu-ilmu empiris itu menjadi suatu pola yang berarti.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Dari uraian di atas kita sudah berkenalan dengan ilmu empiris berupa simpulan-simpulan penelitian dan konsep-konsep serta ilmu teoretis dalam bentuk teori-teori atau <em>grand theory-grand theory</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Ditinjau dari segi historis, hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang sangat menyolok. Pada permulaan sejarah filsafat di Yunani, “philosophia” meliputi hampir seluruh pemikiran teoritis. Tetapi dalam perkembangan ilmu pengetahuan di kemudian hari, ternyata juga kita lihat adanya kecenderungan yang lain. Filsafat Yunani Kuno yang tadinya merupakan suatu kesatuan kemudian menjadi terpecah-pecah (Bertens, 1987, Nuchelmans, 1982).</p>
<p style="text-align:justify;">Lebih lanjut Nuchelmans (1982), mengemukakan bahwa dengan munculnya ilmu pengetahuan alam pada abad ke 17, maka mulailah terjadi perpisahan antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian dapatlah dikemukakan bahwa sebelum abad ke 17 tersebut ilmu pengetahuan adalah identik dengan filsafat. Pendapat tersebut sejalan dengan pemikiran Van Peursen (1985), yang mengemukakan bahwa dahulu ilmu merupakan bagian dari filsafat, sehingga definisi tentang ilmu bergantung pada sistem filsafat yang dianut. Dalam perkembangan lebih lanjut menurut Koento Wibisono (1999), filsafat itu sendiri telah mengantarkan adanya suatu konfigurasi dengan menunjukkan bagaimana “pohon ilmu pengetahuan” telah tumbuh mekar-bercabang secara subur. Masing-masing cabang melepaskan diri dari batang filsafatnya, berkembang mandiri dan masing-masing mengikuti metodologinya sendiri-sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian, perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju dengan munculnya ilmu-ilmu baru yang pada akhirnya memunculkan pula sub-sub ilmu pengetahuan baru bahkan kearah ilmu pengetahuan yang lebih khusus lagi seperti spesialisasi-spesialisasi. Oleh karena itu tepatlah apa yang dikemukakan oleh Van Peursen (1985), bahwa ilmu pengetahuan dapat dilihat sebagai suatu sistem yang jalin-menjalin dan taat asas (konsisten) dari ungkapan-ungkapan yang sifat benar-tidaknya dapat ditentukan. Terlepas dari berbagai macam pengelompokkan atau pembagian dalam ilmu pengetahuan, sejak F.Bacon (1561-1626) mengembangkan semboyannya “<em>Knowledge Is Power</em>”, kita dapat mensinyalir bahwa peranan ilmu pengetahuan terhadap kehidupan manusia, baik individual maupun sosial menjadi sangat menentukan. Karena itu implikasi yang timbul menurut Koento Wibisono (1984), adalah bahwa ilmu yang satu sangat erat hubungannya dengan cabang ilmu yang lain serta semakin kaburnya garis batas antara ilmu dasar-murni atau teoritis dengan ilmu terapan atau praktis.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mengatasi gap antara ilmu yang satu dengan ilmu yang lainnya, dibutuhkan suatu bidang ilmu yang dapat menjembatani serta mewadahi perbedaan yang muncul. Oleh karena itu, maka bidang filsafatlah yang mampu mengatasi hal tersebut. Hal ini senada dengan pendapat Immanuel Kant (dalam Kunto Wibisono dkk., 1997) yang menyatakan bahwa filsafat merupakan disiplin ilmu yang mampu menunjukkan batas-batas dan ruang lingkup pengetahuan manusia secara tepat. Oleh sebab itu Francis Bacon (dalam The Liang Gie, 1999) menyebut filsafat sebagai ibu agung dari ilmu-ilmu (the great mother of the sciences).</p>
<p style="text-align:justify;">Lebih lanjut Koento Wibisono dkk. (1997) menyatakan, karena pengetahuan ilmiah atau ilmu merupakan “<em>a higher level of knowledge</em>”, maka lahirlah filsafat ilmu sebagai penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Filsafat ilmu sebagai cabang filsafat menempatkan objek sasarannya: Ilmu (Pengetahuan). Bidang garapan filsafat ilmu terutama diarahkan pada komponen-komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu yaitu: ontologi, epistemologi dan aksiologi. Hal ini didukung oleh Israel Scheffler (dalam The Liang Gie, 1999), yang berpendapat bahwa filsafat ilmu mencari pengetahuan umum tentang ilmu atau tentang dunia sebagaimana ditunjukkan oleh ilmu.</p>
<p style="text-align:justify;">Interaksi antara ilmu dan filsafat mengandung arti bahwa filsafat dewasa ini tidak dapat berkembang dengan baik jika terpisah dari ilmu. Ilmu tidak dapat tumbuh dengan baik tanpa kritik dari filsafat. Dengan mengutip ungkapan dari Michael Whiteman (dalam Koento Wibisono dkk.1997), bahwa ilmu kealaman persoalannya dianggap bersifat ilmiah karena terlibat dengan persoalan-persoalan filsafati sehingga memisahkan satu dari yang lain tidak mungkin. Sebaliknya, banyak persoalan filsafati sekarang sangat memerlukan landasan pengetahuan ilmiah supaya argumentasinya tidak salah. Lebih jauh, Jujun S. Suriasumantri (1982:22), –dengan meminjam pemikiran Will Durant– menjelaskan hubungan antara ilmu dengan filsafat dengan mengibaratkan filsafat sebagai pasukan marinir yang berhasil merebut pantai untuk pendaratan pasukan infanteri. Pasukan infanteri ini adalah sebagai pengetahuan yang diantaranya adalah ilmu. Filsafatlah yang memenangkan tempat berpijak bagi kegiatan keilmuan. Setelah itu, ilmulah yang membelah gunung dan merambah hutan, menyempurnakan kemenangan ini menjadi pengetahuan yang dapat diandalkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendidikan merupakan salah satu bidang ilmu. Sama halnya dengan ilmu-ilmu yang lain, pendidikan lahir dari induknya filsafat. Filsafat diciptakan oleh manusia untuk kepentingan memahami kedudukan manusia, pengembangan manusia, dan peningkatan hidup manusia.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>FILSAFAT PENDIDIKAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Filsafat sering pula diartikan sebagai pandangan hidup. Dalam dunia pendidikan, filsafat mempunyai peranan yang sangat besar. Karena, filsafat yang merupakan pandangan hidup iku menentukan arah dan tujuan proses pendidikan. Oleh karena itu, filsafat dan pendidikan mempunyai hubungan yang sangat erat. Sebab, pendidikan sendiri pada hakikatnya merupakan proses pewarisan nilai-nilai filsafat, yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupan yang lebih baik atau sempurna dari keadaan sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam pendidikan diperlukan bidang filsafat pendidikan. Filsafat pendidikan sendiri adalah ilmu yang mempelajari dan berusaha mengadakan penyelesaian terhadap masalah-masalah pendidikan yang bersifat filosofis. Jadi jika ada masalah atas pertanyaan-pertanyaan soal pendidikan yang bersifat filosofis, wewenang filsafat pendidikanlah untuk menjawab dan menyelesaikannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Secara filosofis, pendidikan adalah hasil dari peradaban suatu bangsa yang terus menerus dikembangkan berdasarkan cita-cita dan tujuan filsafat serta pandangan hidupnya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang melembaga di dalam masyarakatnya. Dengan demikian, muncullah filsafat pendidikan yang menjadi dasar bagaimana suatu bangsa itu berpikir, berperasaan, dan berkelakuan yang menentukan bentuk sikap hidupnya. Adapun proses pendidikan dilakukan secara terus menerus dilakukan dari generasi ke generasi secara sadar dan penuh keinsafan.<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Filsafat pendidikan ialah penggunaan ilmu Filsafat didalam studi mengenai masalah pendidikan (Philosophy of education is the application of philosophy to the study of the problem of education), atau lebih tegasnya lagi : Filsafat pendidikan adalah suatu sistem pemikiran yang filosofis terhadap masalah- masalah pendidikan. Adapun perlunya atau alasannya maka studi kita berbicara tentang orang tidak dapat menggunakan suatu yang dia tidak tahu. Maka sangat perlulah bagi guru mengetahui Filsafat. Baik sebagai orang seorang maupun (lebih- lebih) sebagai guru filsafat itu amat perlu baginya. Maksud dan tujuan dari pendidikan selalu berhubungan dengan maksud atau tujuan hidup. Dengan demikian maksud dan tujuan dari pendidikan tidak dipahami apabila tidak sekaligus memahami tujuan hidup itu sendiri. Suatu filsafat hidup yang baik adalah suatu prasyarat bagi suatu filsafat pendidikan yang sehat.</p>
<p style="text-align:justify;">Ahli- ahli Filsafat menyadari hal ini benar- benar. Sebagaimana telah kita ketahui, Filsafat berkepentingan member intepretasi (menafsirkan) segalanya yang datang kedalam pengalaman manusia. Salah satu dari tugas- tugas Filsafat yang amat penting, sejak masa Filsafat Yunani hingga kini, adalah memformulasikan tujuan- tujuan dan isi dari hidup yang memuaskan. Adalah menjadi tugas dari pendidikan untuk memberikan bimbingan atas pertumbuhan dan perkembangan dari anak laki- laki dan perempuan agar kelak dikemudian hari memperoleh hidup yang setidak- tidaknya mendekati bentuk hidup yang memuaskan seperti yang telah dirumuskan oleh ahli- ahli Filsafat.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Zanti Arbi (1988) Filsafat Pendidikan adalah sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">1). Menginspirasikan</p>
<p style="text-align:justify;">2). Menganalisis</p>
<p style="text-align:justify;">3). Mempreskriptifkan</p>
<p style="text-align:justify;">4). Menginvestigasi</p>
<p style="text-align:justify;">Maksud <em><strong>menginsparasikan </strong></em>adalah memberin insparasi kepada para pendidik untuk melaksanakan ide tertentu dalam pendidikan. Melalui filsafat tentang pendidikan, filosof memaparkan idennya bagaimana pendidika itu, kemana diarahkan pendidikan itu, siapa saja yang patut menerima pendidikan, dan bagaimana cara mendidik serta peran pendidik. Sudah tentu ide-ide ini didasari oleh asumsi-asumsi tertentu tentang anak manusia, masyarakat atau lingkungan, dan negara.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara itu yang dimaksud dengan <em><strong>menganalisis</strong></em> dalam filsafat pendidikan adalah memeriksa teliti bagian-bagian pendidikan agar dapat diketahui secara jelas validitasnya. Hal ini perlu dilakukan agar dalam penyusunan konsep pendidikan secara utuh tidak terjadi kerancan, umpang tindih, serta arah yang simpang siur. Dengan demkian ide-ide yang komplek bisa dijernihkan terlebih dahulu, tujuan pendidikan yang jelas, dan alat-alatnya juga dapat ditentukan dengan tepat. Francis Bacon dalam bukunya <em>The Advencement of Leraning</em> mengemukakan tesis bahwa kebanyakan pengetahuan yang dimiliki oleh manusia mengandung unsur-unsur valitditas yang bermanfaat dalam menyelesaikan persoalan sehari-hari, bila pengetahuan itu berisikan dari salah satu konsep yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Bacon menggunakan logika induktif sebagai teknik krisis atau analisis untuk menemukan arti pendidikan yang dapat diandalkan. Melalui pengalaman secara kritis dengan logika induktif akan dapat ditemukan konsep-konsep pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Mempreskriptifkan</strong></em> dalam filsafat pendidikan adalah upaya mejelaskan atau memberi pengarahan kepada pendidik melalui filsafat pendidikan. Yang jelaskan bisa berupa hakekat manusia bila dibandingkan dengan mahluk lain, aspek-aspek peserta didik yang patut dikembangkan; proses perkembangan itu sendiri, batas-batas bantuan yang bisa diberikan kepada proses perkembangan itu sendiri, batas-batas keterlibatan pendidik, arah pendidikan yang jelas , target-target pendidikan bila dipandang perlu, perbedaan arah pendidikan bila diperlukan sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minat anak-anak.</p>
<p style="text-align:justify;">Johann Herbart dalam bukunya <em>Scence of education</em> menginginkan agar guru mempunyai informasi yang dapat dihandalkan mengenai tujuan pendidikan yang dapat dicapai dan proses belajar sebelum guru ini memasuki kelas. Pondasi pendidikan yang dikontruksi di atas asumsi yang disangsikan kebenarannya atau di atas tradisi yang masih kabur perlu segera diganti dengan informasi-informasi yang valid. Suatu informasi yang direkonstruksi dari atau secara ilmiah.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang dimaksud <em><strong>menginvestigasi</strong></em> dalam filsafat pendidikan adalah untuk memeriksa atau meneliti kebenaran suatu teori pendidikan. Pendidikan tidak dibenarkan mengambil begitu saja suatau konsep atau teori pendidikan untuk dipraktikan dilapangan. Pendidik seharusnya mencari sendiri konsep-konsep pendidikan di lapangan atau melalui penelitian-penelitian. Untuk sementara filsafat pendidikan bisa dipakai latar pengetahuan saja. Selanjutnya setelah pendidik berhasil menemukan konsep, barulah filsafat pendidikan dimanfaatkan untuk mengevaluasinya, atau sebagai pembanding, untuk kemungkinan sebagai bahan merevisi, agar konsep pendidikan itu menjadi lebih mantap. John Dewey dalam bukunya <em>Democracy and Education</em> menyatakan bahwa pengelaman adalah tes terakhir dari segala hal. Mereka memandang pengalaman sebagai panji-panji semua filsafat pendidikan yang mempunyai komitmen terhadap<em> inquiry</em> atau penyelidik. Filosfo berfungsi memilih pengalaman-pengalaman yang cocok untuk memanjukan efisiensi sosial. Filsafat pendidikan berusaha menafsirkan proses belajar-mengajar menurut prosedur pengujian ilmiah dan kemudian memberi komentar tentang nilai atau kemanfaatannya. Filsafat pendidikan mencari konsekuensi proses belajar mengajar, apa yang telah dilakukan, apa kelemahannya, dan bagaimana cara mengatasi kelemahan itu</p>
<p style="text-align:justify;">Para filosof, melalui filsafat pendidikannya, berusaha menggali ide-ide baru tentang pendidikan, yang menurut pendapatnya lebih tepat ditinjau dari kewajaran keberadaan peserta didik dan pendidik maupun ditinjau dari latar gografis, sosologis, dan budaya suatu bangsa. Dari sudut pandang keberadaan manusia akan menimbulkan aliran Perennialis, Realis, Empiris, Naturalis, dan Eksistensialis. Sedangkan dari sudut geografis, sosiologis, dan budaya akan menimbulkan aliran Esensialis, Tradisionalis, Progresivis, dan Rekontruksionis. Berbagai aliran filafat pendidikan tersebut di atas, memberikan dampak terciptanya konsep-konsep atau teori-teori pendidikan yang beragam. Masing-masing konsep akan mendukung filsafat pendidikan itu. Dalam membangun teori-teori pendidikan, filsafat pendidikan juga mengingatkan agar teori-teori itu diwujudkan diatas ebenaran berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan. Dengan kata lain, teori-teori pendidikan harus disusun berdasarkan hasil-hasil penelitian ilmiah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>FILSAFAT PENDIDIKAN dan ILMU PENDIDIKAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Untuk dapat melakukan tugasnya dengan baik, kepada guru di tuntut untuk bekerja dengan daya kreasi yang keluar dari jiwa yang segar. Bekerja dengan ketajaman cipta atau bekerja dengan penuh kreativiteit ini perlu bagi guru, karena didalam tugasnya membantu anak-anak didik yang beragam-ragam kepribadiannya dan latar belakangnya itu guru akan selalu berhadapan dengan problem yang sifatnya baru. Pendek kata begitu kompleklah keadaan dan sifat-sifat manusia itu, serta masalah-masalah kemanusiaan adalah bukan buatan banyaknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Di dalam usahanya mencari pemecahan atas problem baru yang dihadapinya, guru yang tidak mempunyai cukup daya cipta akan lari kepada cara-cara pemecahan yang telah dilakukan oleh gurunya dulu yang pernah mengajar dia. Pendek kata dia akan melakukan “peniruan” untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sendiri sekarang mustahil dapat di katakan sama, kalau toh umpamanya hendak di katakana mengandung persamaan-persamaan disana sini, hal ini berarti cara pemecahannya-pun tidak dapat dengan jalan “sekedar meniru”, melainkan bersifat “mengambil pengalaman dari” atau “belajar dari pengalaman” yang pernah dialami oleh gurunya dulu. Pekerjaan mempergunakan pengalaman orang lain atau belajar dari pengalaman orang lain untuk dapat memecahkan persoalan sendiri yang di hadapinya sekarang-pun adalah sangat memerlukan kreativitas atau ketajaman cipta. Bila tidak, maka keseluruhan usaha pemecahan itu hanya akan merupakan kumpulan / gundukan dari tehnik-tehnik atau cara-cara pemecahan yang tidak organis dan yang tidak menimbulkan daya guna yang sesuai dengan jerih payahnya mengumpulkan segala pengalaman tadi, atau dengan perkataan lain dengan tidak adanya ketajaman cipta yang diperlukan usaha pemecahan itu hanya berakhir dengan ke sia-siaan ( kegagalan ).</p>
<p style="text-align:justify;">Apabila “meniru” seperti yang ada di atas tadi tidak dibenarkan, kemanakah kemudian orang/guru harus mencari pemecahan atas masalah yang dihadapinya? Jawabannya ialah : guru harus mempergunakan ketajaman ciptanya untuk menemukan jawab atas persoalan/pertanyaan yang paling dasar, yang sebenarnya menjadi dasar keseluruhan kegiatan paedagogis yang seharusnya di lakukannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan terjawabnya persoalan-persoalan/pertanyaan-pertanyaan dasar tersebut guru kemudian dapat meneliti apakah perbuatan-perbuatan/usaha-usahanya berkenaan dengan pemecahan masalah tersebut sudah sesuai dengan yang seharusnya atau-kah belum.</p>
<p style="text-align:justify;">Persoalan-persoalan / pertanyaan-pertanyaan dasar yang harus dicarikan jawabnya tersebut adalah pertanyaan-pertanyaan atau persoalan-persoalan yang urutnya sebagai berikut : Apakah sebenarnya yang sedang hendak saya pecahkan ini ? Untuk apakah sebenarnya sekolahan  itu didirikan ? Apakah anak ( child ) itu dan bagaimana sifat-sifat asal ( nature ) dari anak, berhubungan dengan itu pula apa tuntutan-tuntutan dari masyarakat atas anak/anak-anak, serta bagaimana saya dapat membimbing pertumbuhan anak itu dengan sebaik-baiknya sehingga dapat merealisasikan cita-cita pendidikan ?.</p>
<p style="text-align:justify;">Dimanakah jawab atas pertanyaan-pertanyaan di atas didapatkan ? Jawabnya terdapat di dalam filsafat pendidikan. Atau bahkan : menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai inilah yang menjadi kerangka kerja dari filsafat pendidikan. Jadi dengan perkataan yang lebih langsung : guru yang menghadapi dan yang pasti akan selalu menghadapi problem yang selalu baru seperti tersebut di atas tadi di dalam usahanya untuk mencari penyelesaian disarankan untuk menggali jawabnya di dalam fisafat penidikan. Jadi dia perlu mendapat bantuan dari filsafat pendidikan. Dan memang sebenarnya-lah guru di dalam bekerjanya amat dipengaruhi oleh filsafatnya. Bahkan ada pendapat yang mengatakan bahwa tidak ada petugas lainnya lagi di dalam masyarakat yang di dalam bekerjanya lebih banyak dipengaruhi oleh filsafatnya dari pada guru.</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah ilmu pendidikan tidak dapat memberikan banutuannya kepada guru yang sedang dalam usahanya kea rah pemecahan masalah tersebut ? Jawabannya : memang ilmu pendidikan ( science of education ) dapat memberikan bantuannya berupa cara-cara sebagai petunjuk, alat – alat dan serta tehniknya. Akan tetapi semua bantuan tadi barulah dapat dipergunakan setelah guru beroleh pemecahan atau jawab atas persoalan / pertanyaan-pertanyaan dasar seperti yang dikemukakan didepan tadi. Dan untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan dasar tadi sudah pula dijelaskan : kita memerlukan filsafat. Sejalan dengan kenyataan bahwa ilmu dan filsafat itu selalu saling melengkapi di sepanjang perkembangannya, maka ilmu dan filsafat juga selalu saling melengkapi dalam pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ilmu pendidikan akan memberikan sumbangannya berupa pengetahuan yang diperdapat melalui percobaan-percobaan yang dilakukannya, melalui analisa, pengukuran, penghitungan, penggolongan atau klasifikasi serta pembandingan atau komparasi. Filsafat pendidikan akan memberikan sumbangannya berupa penemuan tujuan kearah mana keseluruhan usaha pendidikan akan di perkembangkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Seorang ahli mengatakan : “Jawaban atas setiap masalah pendidikan selalu benyak-banyak dipengaruhi oleh filsafat hdup kita. Entah panjang entah pendek, setiap sistem pendidikan mesti harus merumuskan “tujuan” pendidikan menurut sistim tersebut dan tujuan dari pendidikan adalah selalu berhubungan ( bersangkutan ) dengan tujuan hidup kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Sama sekali tidaklah gampang menentukan tujuan-tujuan ini dan tidak gampang pula menentukan tujuan bagaimana cara mencapainya. Sungguh tugas membimbing perkembangan anak laki-laki dan perempuan adalah merupakan salah satu dari tugas-tugas yang  amat berat yang harus dipikul oleh manusia ( Tetapi juga merupakan tugas yang amat perlu dan amat penting, serta amat penting, serta amat besar manfaatnya bila usaha itu berhasil ). Pekerjaan mengajar bukanlah pekerjaan yang dapat dan boleh dilakukan oleh sembarang orang saja. Pekerjaan mengjar memerlukan kepribadian yang baik, kecerdasan yang tunggi dan pengetahuan yang banyak. Setiap guru yang sebenarnya akan selalu merasa kurang bila behadapan dengan tuntutan-tuntutan dari tugasnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Redja Mudyahardjo. Filsafat Ilmu Pendidikan. 2001. Bandung : ROSDA</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/13/hubungan-antara-filsafat-dengan-ilmu/">http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/13/hubungan-antara-filsafat-dengan-ilmu/</a></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://denovoidea.wordpress.com/2009/02/23/hubungan-filsafat-dan-pendidikan/">http://denovoidea.wordpress.com/2009/02/23/hubungan-filsafat-dan-pendidikan/</a></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://sg.answers.yahoo.com/question/index?qid=20081216014623AA5zrcF">http://sg.answers.yahoo.com/question/index?qid=20081216014623AA5zrcF</a></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.anakciremai.com/2008/04/makalah-filsafat-ilmu-tentang-perbedaan.html">http://www.anakciremai.com/2008/04/makalah-filsafat-ilmu-tentang-perbedaan.html</a></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://sman1sukaraja.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=27&amp;Itemid=30">http://sman1sukaraja.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=27&amp;Itemid=30</a><a href="http://edu-articles.com/guru-dan-filsafat-pendidikan/">http://edu-articles.com/guru-dan-filsafat-pendidikan/</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhnuruddin.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhnuruddin.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhnuruddin.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhnuruddin.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhnuruddin.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhnuruddin.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhnuruddin.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhnuruddin.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhnuruddin.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhnuruddin.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhnuruddin.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhnuruddin.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhnuruddin.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhnuruddin.wordpress.com/60/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhnuruddin.wordpress.com&amp;blog=9961915&amp;post=60&amp;subd=muhnuruddin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhnuruddin.wordpress.com/2009/12/10/pengantar-fisafat-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ff24a6484843b6dd35cfdf08ac438b79?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">muhnuruddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perencanaan Pembelajaran</title>
		<link>http://muhnuruddin.wordpress.com/2009/12/10/perencanaan-pembelajaran/</link>
		<comments>http://muhnuruddin.wordpress.com/2009/12/10/perencanaan-pembelajaran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 04:36:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muhnuruddin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhnuruddin.wordpress.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Abstraksi tugas perencanaan pembelajaran oleh : Muhammad Nuruddin Profesi guru pada sistem persekolahan mulai berkembang di persada Nusantara pada zaman kolonial. Guru telah ikut berperan dalam pembentukan Negara-Bangsa Indonesia yang memiliki bahasa nasional Bahasa Indonesia. Profesi guru pernah menjadi profesi penting dalam perjalanan bangsa ini dalam menanamkan nasionalisme, menggalang persatuan dan berjuang melawan penjajahan. MENJADI [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhnuruddin.wordpress.com&amp;blog=9961915&amp;post=55&amp;subd=muhnuruddin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Abstraksi tugas perencanaan pembelajaran</p>
<p style="text-align:center;">oleh : <a href="http://www.flickr.com/photos/45394628@N03/4170751887/">Muhammad Nuruddin</a></p>
<p style="text-align:justify;">Profesi guru pada sistem persekolahan mulai berkembang di persada Nusantara pada zaman kolonial. Guru telah ikut berperan dalam pembentukan Negara-Bangsa Indonesia yang memiliki bahasa nasional Bahasa Indonesia. Profesi guru pernah menjadi profesi penting dalam perjalanan bangsa ini dalam menanamkan nasionalisme, menggalang persatuan dan berjuang melawan penjajahan.</p>
<p><span id="more-55"></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>MENJADI GURU PROFESIONAL</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td style="text-align:center;" width="149" height="2"></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:auto;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><strong>MUHAMMAD NURUDDIN</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>071644036</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>2009</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>MENJADI GURU PROFESIONAL</strong></p>
<p><strong>Permasalahan Guru di Indonesia</strong></p>
<p>Profesi guru pada sistem persekolahan mulai berkembang di persada Nusantara pada zaman kolonial. Guru telah ikut berperan dalam pembentukan Negara-Bangsa Indonesia yang memiliki bahasa nasional Bahasa Indonesia. Profesi guru pernah menjadi profesi penting dalam perjalanan bangsa ini dalam menanamkan nasionalisme, menggalang persatuan dan berjuang melawan penjajahan.</p>
<p>Persoalan guru di Indonesia adalah terkait dengan masalah-masalah kualifikasi yang rendah, pembinaan yang terpusat, perlindungan profesi yang belum memadai dan perseberannya yang tidak merata sehingga menyebabkan kekurangan guru di beberapa lokasi. Segala persoalan guru tersebut timbul oleh karena adanya berbagai sebab dan masing-masing saling mempengaruhi.</p>
<p>Sebenarya sumber permasalahan pendidikan yang terbesar adalah adanya perubahan, karena itu permasalahan akan senantiasa ada sampai kapan pun. Institusi pendidikan dituntut untuk menyesuaikan dengan perubahan perkembangan yang ada dalam masyarakat. Demikian pula dengan guru, yang senantiasa dituntut untuk menyesuaikan dengan perubahan. Akibatnya demikian banyak permasalahan yang dihadapi oleh guru, karena ketidakmampuan nya menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi di sekelingnya sebagai akibat dari keterbatasannya sebagai individu atau karena keterbatasan kemampuan sekolah dan pemerintah. Jadi masalah pendidikan senantiasa muncul karena adanya tuntutan agar institusi pendidikan termasuk guru menyesuaikan dengan segala perkembangan yang ada dalam masyarakat.</p>
<p><strong>Kompetensi Penting Profesi Guru</strong></p>
<p>Profesionalisme guru dibangun melalui penguasaan kompetensi-kompetensi yang secara nyata diperlukan dalam menyelesaikan pekerjaan. Kompetensi-kompetensi penting jabatan guru tersebut adalah: kompetensi bidang substansi atau bidang studi, kompetensi bidang pembelajaran, kompetensi bidang pendidikan nilai dan bimbingan serta kompetensi bidang hubungan dan pelayanan/pengabdian masyarakat.</p>
<p>Pengembangan profesionalisme guru meliputi peningkatan kompetensi. peningkatan kinerja (performance) dan kesejahteraannya. Guru sebagai profesional dituntut untuk senatiasa meningkatkan kemampuan, wawasan dan kreativitasnya.</p>
<p>Kemampuan-kemampuan yang selama ini harus dikuasai guru juga akan lebih dituntut aktualisasinya. misalnya kemampuannya dalam:</p>
<p>1)  Merencanakan pembelajaran dan merumuskan tujuan,</p>
<p>2)  Mengelola kegiatan individu,</p>
<p>3)  Menggunakan multi metoda, dan memanfaatkan media,</p>
<p>4)  Berkomunikasi interaktif dengan baik,</p>
<p>5)  Memotivasi dan memberikan respons,</p>
<p>6)  Melibatkan siswa dalam aktivitas,</p>
<p>7)  Mengadakan penyesuaian dengan kondisi siswa,</p>
<p> <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' />  Melaksanakan dan mengelola pembelajaran,</p>
<p>9)  Menguasai materi pelajaran,</p>
<p>10) Memperbaiki dan mengevaluasi pembelajaran,</p>
<p>11)Memberikan bimbingan, berinteraksi dengan sejawat dan bertanggungjawab kepada konstituen serta,</p>
<p>12) Mampu melaksanakan penelitian.</p>
<p>Secara spesifik pelaksanaan tugas guru sehari-hari di kelas seperti membuat siswa berkonsentrasi pada tugas, memonitor kelas, mengadakan, penilaian dan seterusnya, harus dilanjutkan dengan aktivitas dan tugas tambahan yang tidak kalah pentingnya seperti membahas persoalan pembelajaran dalam rapat guru, mengkomunikasikan hasil belajar siswa dengan orangtua dan mendiskusikan berbagai persoalan pendidikan dan pembelajaran dengan sejawat. Bahkan secara lebih spesiflk guru harus dapat mengelola waktu pembelajaran dalam setiap jam pelajaran secara efektifdan efisien. Untuk dapat mengelola pembelajaran yang efektifdan efisien tersebut, guru harus senantiasa belajar dan meningkatkan keterampilan dasarnya. Menurut Rosenshine dan Stevens sembilan keterampilan dasar yang penting dikuasai oleh guru adalah keterampilan;</p>
<p>1) Membuka pembelajaran dengan mereview secara singkat pelajaran terdahulu yang terkait dengan pelajaran yang akan disajikan,</p>
<p>2) Menyajikan secara singkat tujuan pembelajaran,</p>
<p>3) Menyajikan materi dalam langkah-langkah kecil dan disertai latihannya masing-masing,</p>
<p>4) Memberikan penjelasan dan keterangan yang jelas dan detil,</p>
<p>5) Memberikan latihan yang berkualitas,</p>
<p>6) Mengajukan pertanyaan dan memberi banyak kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan pemahamannya,</p>
<p>7) Membimbing siswa menguasai keterampilan atau prosedur baru,</p>
<p> <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> Memberikan balikan dan koreksi, dan</p>
<p>9) Memonitor kemajuan siswa (Rosenshine &amp; Stevens. 1986).</p>
<p>Selain itu, tentu saja masih ada keterampilan lain yang harus dikuasai guru misalnya menutup pelajaran dengan baik dengan membuat rangkuman dan memberikan petunjuk tentang tindak lanjut yang harus dilakukan siswa.</p>
<p>Pendeknya banyak hal-hal kecil yang harus diperhatikan dan dikuasai oleh guru sehingga secara kumulatif membentuk suatu keutuhan kemampuan profesional yang bisa ditampilkan dalam bentuk kinerja yang optimal</p>
<p>Dalam upaya meningkatkan profesionalisme guru. maka guru sendiri harus mau membuat penilaian atas kinerjanya sendiri atau mau melakukan otokritik. Di samping itu kritik, pendapat dan berbagai harapan masyarakatjuga harus menjadi perhatiannya. Jadi, guru harus memperbaiki profesionalismenya sendiri, dan masyarakat membantu mempertajam dan menjadi pendorongnya</p>
<p><strong>Persyaratan Guru Profesional</strong></p>
<ol>
<li>Menuntut adanya keterampilan yang berdasarkan      konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendalam.</li>
<li>Menemukan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu      sesuai dengan bidang profesinya.</li>
<li>Menuntut adanya tingkat pendidikan keguruan yang      memadai.</li>
<li>Adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan.</li>
<li>Memungkinkan perkembangan sejalan dengan dinamika      kehidupan.</li>
<li>Memiliki kode etik sebagai acuan dalam melaksanakan      tugas dan fungsinya.</li>
<li>Memiliki klien/objek layanan ysng tetap, seperti      guru dengan muridnya.</li>
<li>Diakui oleh masyarakat, karena memang jasanya perlu      dimasyarakatkan.</li>
</ol>
<p>Dari pengertian di atas, bahwa profesi adalah suatu pekerjaan yang memerlukan pendidikan lanjut, profesi juga memerlukan keterampilan melalui ilmu pengetahuan yang mendalam, ada jenjang pendidikan khusus yang mesti dilalui sebagai sebuah persyaratan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Beberapa Kemampuan Yang Mesti Dimiliki Oleh Guru</strong></p>
<ol>
<li>Menggunakan cara atau metode dan media mengajar      yang bervariasi. Dengan metode dan media yang bervariasi kebosanan pun      dapat dikurangi atau dihilangkan.</li>
<li>Memilih bahan yang menarik minat dan dibutuhkan      siswa. Sesuatu yang dibutuhkan akan menarik perhatian, dengan demikian      akan membangkitkan motivasi untuk mempelajarinya.</li>
<li>Memberikan saran antara lain ujian semester, ujian      tegah semester, ulangan harian dan juga kuis.</li>
<li>Memberikan kesempatan untuk sukses. Bahan atau soal      yang sulit yang hanya bisa dicapai siswa yang pandai. Agar siswa ysng      kursng pandai juga bisa maka diberikan soal yang sesuai dengan      kepandainnya</li>
<li>Diciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Dalam      hal ini di lakukan guru dengan cara belajar yang punya rasa persahabatan,      punya humor, pengakuan keberadaan siswa dan menghindari celaan dan makian.</li>
<li>Mengadakan persaingan sehat melalui hasil belajar      siswa. Dalam persaingan ini dapat diberikan pujian, ganjaran ataupun      hadiah</li>
</ol>
<p>Sejalan dengan kutipan di atas, maka profesionalitas guru adalah rangka motivasi siswa untuk sukses dalam belajar akan terlihat dengan kemampuan di dalam intraksi belajar mengajar yang muncul indikator penggunaan metode dan media yang bervariasi, pemilihan bahan yang menarik minat, pemberian kesempatan untuk sukses, penyajian suasana belajar mengajar yang menyenangkan dan juga pengadaan persaingan sehat.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Upaya-upaya Guru Meningkatkan Profesionalisme</strong></p>
<p>Peningkatan profesionalisme guru pada akhirnya terpulang dan ditentukan oleh para guru. Upaya apa sajakah yang harus dilakukan guru untuk meningkatkan profesionalismenya?</p>
<p>Guru harus selalu berusaha untuk melakukan hal-hal sebagai berikut:</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Pertama</span>, memahami tuntutan standar profesi yang ada,</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Kedua</span> mencapai kualifikasi dan kompetensi yang dipersyaratkan,</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Ketiga</span>, membangun hubungan kesejawatan yang baik dan luas termasuk lewat organisasi profesi.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Keempat</span>, mengembangkan etos kerja atau budaya kerja yang mengutamakan pelayanan bermutu tinggi kepada konstituen,</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Kelima,</span> mengadopsi inovasi atau mengembangkan kreativitas dalam pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi mutakhir agar senantiasa tidak ketinggalan dalam kemampuannya mengelola pembelajaran.</p>
<p>Upaya-upaya guru untuk meningkatkan profesionalismenya tersebut pada akhirnya memerlukan adanya dukungan dari semua pihak yang terkait agar benar-benar terwujud. Pihak-pihak yang harus memberikan dukungannya tersebut adalah organisasi profesi seperti PGRI, pemerintah dan juga masyarakat.</p>
<p><strong>Lima Faktor Krusial untuk Meningkatkan &amp; Menganalisa Profesionalisme Guru</strong><br />
1. Etika<br />
2. Sikap<br />
3. Kebiasaan<br />
4. Ilmu Pengetahuan<br />
5. Keterampilan</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Etika</strong><br />
1. Kemampuan untuk berkerja dan melayani tanpa diskriminasi.</p>
<p>2. Kemampuan untuk menjaga kerahasiaan dan privasi siswa, rekan guru dan atasan.</p>
<p>3.  Komitmen untuk memberikan penilaian berdasarkan pendapat dan penilaian yang objektif .</p>
<p>4. Isu yang berhubungan dengan keadilan dalam kontrak pekerjaan dan perimbangan daya tawar antara pemilik sekolah dan yang dipekerjakan.</p>
<p>5. Masalah keselamatan kerja dan kesehatan kerja.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Sikap</strong><br />
1. Proaktif.<br />
2. Percaya diri .<br />
3. Bergembira dalam beraktivitas.<br />
4. Terbuka.<br />
5. Fokus.<br />
6. Memiliki sikap empati.</p>
<p><strong>Kebiasaan </strong><br />
1. Kebiasaan yang teratur .<br />
2. Selalu berpartisipasi.<br />
3.  Bekerja dan belajar untuk mencapai sinergi.<br />
4. Belajar untuk mendengar orang lain.<br />
5. Menghargai.<br />
6. Kebiasaan untuk terus berlatih.</p>
<p><strong>Ilmu Pengetahuan</strong><br />
1. Metode belajar.<br />
2. Metode mengajar.<br />
3. Metode manajemen kelas.<br />
4. Psikologi anak.<br />
5. Pengetahuan akan trend ilmu dimasa yang akan datang.</p>
<p><strong>Keterampilan</strong><br />
1. Keunggulan dalam oprasional kelas.<br />
2. Membina hubungan yang baik dengan siswa.<br />
3. Kemampuan untuk mencetuskan inovasi.<br />
4. Memupuk berfikir kritis.<br />
5. Kemampuan untuk berfikir analitis.<br />
6. Kemampuan untuk membuat hipotesa.<br />
7. Kemampuan untuk menghubungkan.<br />
8. Kemampuan untuk membuat prediksi.<br />
9. Kemampuan untuk mencetuskan rasa ingin tahu.<br />
10. Kemampuan untuk mengingat.<br />
11. Kemampuan untuk memahami.<br />
12. Keunggulan dalam oprasional kelas.</p>
<p><strong>Kiat Meningkatkan Profesionalisme</strong><br />
1. Bangun dan pupuk jiwa kepemimpinan dalam diri.<br />
2. Bersikap dan berkerja secara akuntabel sesuai dengan posisi anda. Jalankan tata kelola yang baik.<br />
3. Proaktif dan berpartisipasi secara positif. Tidak ada perubahan tanpa partisipasi<br />
4. Bangun “Sense of Urgency”</p>
<p><strong>Professionalism Road Map</strong><br />
1. Susun strategi untuk membangun profesionalisme.<br />
2. Bentuk struktur yang akan mendukung strategi.<br />
3. Bangun sistem yang berisikan prosedur formal dan informal yang mengatur aktivitas sehari hari.<br />
4. Seleksi talenta yang cocok dan mendukung tujuan organisasi.<br />
5. Tetapkan nilai nilai bersama yang menjadi ciri dan kultur organisasi.<br />
6. Bangun gaya yang unik sehingga menjadi ciri khas personel organisasi anda ketika tampil.</p>
<p><strong>Seseorang Dikatakan Sebagai Profesional</strong></p>
<ol>
<li>Bangga pada pekerjaan, dan menunjukkan komitmen      pribadi pada kualitas,</li>
<li>Berusaha meraih tanggung jawab;</li>
<li>Mengantisipasi, dan tidak menunggu perintah, mereka      menunjukkan inisiatif;</li>
<li>Mengerjakan apa yang perlu dikerjakan untuk      merampungkan tugas;</li>
<li>Melibatkan diri secara aktif dan tidak sekedar      bertahan pada peran yang telah ditetapkan untuk mereka;</li>
<li>Selalu mencari cara untuk membuat berbagai hal      menjadi lebih mudah bagi orang-orang yang mereka layani;</li>
<li>Ingin belajar sebanyak mungkin;</li>
<li>Benar-benar mendengarkan kebutuhan orang-orang yang      mereka layani;</li>
<li>Belajar memahami dan berfikir seperti orang-orang      yang mereka layani sehingga bisa mewakili mereka ketika orang-orang itu      tidak ada di tempat;</li>
<li>Mereka adalah pemain tim;</li>
<li>Bisa dipercaya memegang rahasia;</li>
<li>Jujur bisa dipercaya dan setia</li>
<li>Terbuka terhadap kritik-kritik yang membangun      mengenai cara meningkatkan diri.</li>
</ol>
<p>Dari indikator yang disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa professional itu adalah seseorang yang dipercaya memiliki kemampuan khusus untuk melakukan satu bidang kerja dengan hasil kualitas yang tinggi berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya tentang objek pekerjaannya tersebut.</p>
<p><strong>Kemampuan Atau Profesionalitas Guru</strong></p>
<p>1. Menguasai landasan kependidikan</p>
<ul>
<li>Mengenal tujuan pendidikan nasinal untuk mencapai tujuan</li>
<li>Mengenal fungsi sekolah dalam masyarakat</li>
<li>Mengenal prinsip-prinsip psikologi pendidikan yang dapat dimamfaatkan dalam proses belajar mengajar.</li>
</ul>
<p>2. Menguasai bahan pengajaran</p>
<ul>
<li>Mengusai bahan pengajaran kurikulum pendidikan pendidikan dasar dan menegah.</li>
<li>Mengusai bahan pengayaan</li>
</ul>
<p>3. Menyusun program pengajaran</p>
<ul>
<li>Menetapkan tujuan pembelajaran.</li>
<li>Memiliki dan mengembangkan bahan pembelajaran.</li>
<li>Memiliki dan mengembangkan media pengajaran yang sesuai</li>
<li>Memilih dan memamfaatkan sumber belajar</li>
<li>Melaksanakan program pengajaran</li>
<li>Menciptakan iklim belajar mengajar yang tepat</li>
<li>Mengatur ruangan belajar</li>
<li>Mengelola intraksi belajar mengajar</li>
<li>Menilai hasil belajar mengajar yang telah dilaksanakan</li>
<li>Menilai prestasi murid untuk kepentingan pengajaran</li>
<li>Menilai proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan</li>
</ul>
<p>Sesuai dengan kutipan di atas, maka seorang guru profesional adalah guru yang mempunyai strategi mengajar, menguasai bahan, mampu menyusun program maupun membuat penilaian hasil belajar yang tepat.</p>
<p><strong>Kemampuan Professional Guru Yang Harus Dikembangkan</strong></p>
<ol>
<li>Menguasai kurikulum</li>
<li>Menguasai materi semua mata pelajaran</li>
<li>Terampil menggunakan multi metode pembelajaran</li>
<li>Memiliki komitmen yang tinggi terhadap tugasnya</li>
<li>Memiliki kedisiplinan dalam arti yang      seluas-luasnya</li>
</ol>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Andrias Harefa, <em>Membangkitkan Roh Profesionalisme</em>, (Jakarta: Gramedia: 1999), h. 22-23</p>
<p>Departemen Pendidikan Nasional, Peningkatan Mutu Pendidikan di Sekolah Dasar, (Jakarta: PEQIP, 2001), h. 12.</p>
<p>Muhammad Uzer Usman, <em>Menjadi Guru Profesional</em>, (Bandung : Remaja Rosda Karya, 2002 ), h..15.</p>
<p>Syafruddin Nurdin. <em>Guru Profesinal dan Implementasi Kurikulum</em>. (Jakarta : Ciputat Pers, 2002), h.. 16.</p>
<p>http://maskwarta.blogspot.com/2008/03/upaya-meningkatkan-guru-yang.html</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhnuruddin.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhnuruddin.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhnuruddin.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhnuruddin.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhnuruddin.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhnuruddin.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhnuruddin.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhnuruddin.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhnuruddin.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhnuruddin.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhnuruddin.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhnuruddin.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhnuruddin.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhnuruddin.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhnuruddin.wordpress.com&amp;blog=9961915&amp;post=55&amp;subd=muhnuruddin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhnuruddin.wordpress.com/2009/12/10/perencanaan-pembelajaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ff24a6484843b6dd35cfdf08ac438b79?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">muhnuruddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PKN Kls Lanjut</title>
		<link>http://muhnuruddin.wordpress.com/2009/12/10/1-agama-islam/</link>
		<comments>http://muhnuruddin.wordpress.com/2009/12/10/1-agama-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 03:39:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muhnuruddin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhnuruddin.wordpress.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Ketika saya memprogram mata kuliah PKN Kls Lanjut saya mendapat tugas membuat RPP PKN kls VI semester 1 Standar Kompetensi 1. Menghargai nilai-nilai juang dalam proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara Kompetensi Dasar 1.1  Mendeskripsikan nilai-nilai juang dalam proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara Rencana Pelaksanaan Pembelajaran PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Kelas VI Semester I Standar Kompetensi           [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhnuruddin.wordpress.com&amp;blog=9961915&amp;post=41&amp;subd=muhnuruddin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ketika saya memprogram mata kuliah PKN Kls Lanjut saya mendapat tugas membuat RPP PKN kls VI semester 1</p>
<p style="text-align:justify;">Standar Kompetensi 1. Menghargai nilai-nilai juang dalam proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara</p>
<p style="text-align:justify;">Kompetensi Dasar 1.1  Mendeskripsikan nilai-nilai juang dalam proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara</p>
<p style="text-align:left;"><span id="more-41"></span></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Rencana Pelaksanaan Pembelajaran</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Kelas VI Semester I</strong></p>
<p><strong>Standar Kompetensi           : </strong></p>
<p>1. Menghargai nilai-nilai juang dalam proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara</p>
<p><strong>Kompetensi dasar                               : </strong></p>
<p>1.1  Mendeskripsikan nilai-nilai juang dalam proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara</p>
<p>Disusun oleh:</p>
<h4 style="text-align:center;">MUHAMMAD NURUDDIN</h4>
<p style="text-align:center;"><strong>071644036</strong></p>
<h1 style="text-align:center;">PROGRAM S-1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR</h1>
<p style="text-align:center;"><strong>FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA</strong></p>
<h2 style="text-align:center;">2009</h2>
<p style="text-align:center;"><strong>S  I  L  A  B  U  S</strong></p>
<p>Mata Pelajaran     :  Pendidikan Kewarganegaraan</p>
<p>Kelas / Semester  :  VI (Enam) / 1 (satu)</p>
<p>Standar Kompetensi            :  1. Menghargai nilai-nilai juang dalam Proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="121"><strong>KOMPETENSI   DASAR</strong><strong> </strong></td>
<td width="104"><strong>MATERI   POKOK/</strong></p>
<p><strong>PEMBELAJARAN</strong><strong> </strong></td>
<td width="170"><strong>KEGIATAN   PEMBELAJARAN</strong><strong> </strong></td>
<td width="217"><strong>INDIKATOR</strong><strong> </strong></td>
<td width="104"><strong>PENILAIAN</strong><strong> </strong></td>
<td width="76"><strong>ALOKASI</strong></p>
<p><strong>WAKTU</strong><strong> </strong></td>
<td width="119" valign="top"><strong>SUMBER</strong></p>
<p><strong>BELAJAR</strong><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="121" valign="top">1.1 Mendiskripsikan   nilai-nilai juang dalam proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara.</td>
<td width="104" valign="top">
<ul>
<li>Nilai-   nilai juang dalam proses perumusan Pancasila    sebagai Dasar Negara.</li>
<li>Menjelaskan sejarah   proses perumusan Pancasila.</li>
<li>Bercerita lahirnya istilah   Pancasila.</li>
<li>Bercerita peristiwa   Sidang BPUPKI.</li>
<li>Menyebutkan rumusan   Pancasila yang sah.</li>
<li>Menyebutkan isi   Piagam Jakarta.</li>
</ul>
</td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="217" valign="top">
<ul>
<li>Menjelaskan sejarah   proses perumusan Pancasila.</li>
<li>Menjelaskan lahirnya   istilah Pancasila.</li>
<li>Menjelaskan   pelaksanaan Sidang BPUPKI.</li>
<li>Menyebutkan rumusan   Pancasila yang sah.</li>
<li>Mengetahui Piagam   Jakarta.</li>
</ul>
</td>
<td width="104" valign="top">Teknik</p>
<ul>
<li>Tertulis</li>
<li>Lisan</li>
<li>Perbuatan</li>
</ul>
<p>Bentuk</p>
<ul>
<li>PG</li>
<li>Isian</li>
<li>Essay</li>
<li>Porto   Folio</li>
</ul>
</td>
<td width="76" valign="top">4 jp × 35 menit</td>
<td width="119" valign="top">
<ul>
<li>Buku <em>Pendidikan Kewarganegaraan SD dan MI kelas VI.</em></li>
<li>Buku <em>Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI.</em></li>
<li>Buku yang relevan.<em> </em></li>
<li>Gambar yang Relevan.<em> </em></li>
</ul>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:center;"><strong>Rencana Pelaksanaan Pembelajaran</strong></p>
<p>Satuan Pendidikan               : SDN KEDUNGGEDE I</p>
<p>Mata Pelajaran     : Pendidikan Kewarganegaraan</p>
<p>Kelas/ semester   : VI/ 1</p>
<p>Alokasi Waktu                       : 4 jp × 35 menit (2× pertemuan)</p>
<p><strong>I. Standar Kompetensi</strong></p>
<ol>
<li>Menghargai nilai-nilai juang dalam Proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara</li>
</ol>
<p><strong>II. Kompetensi Dasar</strong></p>
<p>1.1    Mendiskripsikan nilai-nilai juang dalam proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara.</p>
<p><strong>III. Indikator</strong></p>
<ol>
<li>Menjelaskan sejarah proses perumusan Pancasila.</li>
<li>Menjelaskan lahirnya istilah Pancasila.</li>
<li>Menjelaskan pelaksanaan sidang BPUPKI.</li>
<li>Menyebutkan rumusan Pancasila yang sah.</li>
<li>Mengetahui Piagam Jakarta</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>IV. Tujuan Pembelajaran</strong></p>
<ol>
<li>Dengan pengetahuan awal mempelajari Pancasila, siswa dapat menjelaskan sejarah perumusan Pancasila.</li>
<li>Melalui sejarah perumusan pancasila, siswa dapat bercerita lahirnya istilah Pancasila.</li>
<li>Dengan mengetahui tokoh- tokoh yang mengemukakan pendapat mengenai dasar Negara Indonesia, siswa dapat bercerita peristiwa sidang BPUPKI.</li>
<li> Setelah siswa mengerti peristiwa sidang BPUPKI melalui cerita, siswa dapat menyebutkan rumusan pancasila yang sah.</li>
<li>Melalui dokumen yang dihasilkan oleh panitia Sembilan, siswa dapat menyebutkan isi Piagam Jakarta.</li>
</ol>
<p><strong>V. Kolom Analisis Kompetensi</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>KOLOM ANALISIS KOMPETENSI</strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="136"><strong>Apa   yang harus diketahui siswa?</strong></td>
<td width="136"><strong>Apa   yang harus dibuat siswa?</strong></p>
<p><strong>(produk)</strong></td>
<td width="136"><strong>Apa   yg harus bisa diperagakan siswa? (kinerja)</strong></td>
<td width="136"><strong>Apa   yang harus diterapkan siswa?</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="136" valign="top"><strong>Pengetahuan</strong></td>
<td colspan="2" width="272" valign="top"><strong>Ketrampilan</strong></td>
<td width="136" valign="top"><strong>Sikap</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="136" valign="top">Sejarah   proses perumusan Pancasila</td>
<td width="136">-</td>
<td width="136">-</td>
<td width="136" valign="top">Nilai-   nilai juang dalam proses perumusan Pancasila sebagai dasar Negara</td>
</tr>
<tr>
<td width="136" valign="top">Lahirnya   istilah Pancasila</td>
<td width="136">-</td>
<td width="136">-</td>
<td width="136">-</td>
</tr>
<tr>
<td width="136" valign="top">Pelaksanaan   sidang BPUPKI</td>
<td width="136" valign="top">Hasil   rumusan dasar Negara dalam sidang BPUPKI</td>
<td width="136">-</td>
<td width="136">-</td>
</tr>
<tr>
<td width="136" valign="top">Rumusan   Pancasila yang sah</td>
<td width="136">-</td>
<td width="136" valign="top">Mendiskusikan   rumusan Pancasila</td>
<td width="136">-</td>
</tr>
<tr>
<td width="136" valign="top">Piagam   Jakarta</td>
<td width="136">-</td>
<td width="136" valign="top">-</td>
<td width="136">-</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>VI. Deskripsi Materi</strong></p>
<p><strong>Perumusan Pancasila</strong></p>
<p>Terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan Pancasila sebagai dasar negaranya tidak luput dari proses yang panjang. Melalui perjuangan yang keras dari para tokoh nasional akhirnya lahirlah Pancasila sebagai dasar negara. Perjuangan para tokoh dalam merumuskan Pancasila tersebut mengandung nilai-nilai juang yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Apa saja nilai-nilai juang tersebut? Bagaimana cara menerapkannya?</p>
<p>Untuk mengetahui nilai-nilai juang yang ditampilkan para tokoh perumus Pancasila dan dapat menceritakan nilai kebersamaannya secara singkat, pelajari uraian materi pada bab I ini. Selain itu, kamu diharapkan juga dapat menerapkan nilai-nilai juang tersebut dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Dari sejarah perumusan Pancasila, banyak sekali nilai-nilai juang yang dapat dijadikan contoh bagi generasi muda Indonesia sebagai penerus bangsa termasuk kamu yang masih pelajar. Untuk itu, kamu perlu mempelajari terlebih dahulu sejarah perumusan Pancasila agar dapat mengetahui nilai-nilai juang apa saja yang dapat digali dari sejarah perumusan Pancasila tersebut.</p>
<p>A. Nilai-nilai Juang dalam Proses Perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara</p>
<p><strong>1. Proses Perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara</strong></p>
<p>Sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai cita-citanya berjalan berabad-abad dengan cara bermacam-macam dan bertahap. Sejarah perumusan Pancasila erat hubungannya dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Karena sejarah perjuangan bangsa Indonesia sejak berabad-abad yang lalu itu panjang sekali, maka perlu ditetapkan tonggak-tonggak sejarah yaitu peristiwa-peristiwa penting, terutama hubungannya dengan Pancasila.</p>
<p>Pada tanggal 1 Maret 1945 Jepang mengumumkan akan dibentuk Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau dalam bahasa Jepang disebut dokuritsu junbi cosakai (selanjutnya disebut badan penyelidik). Badan ini kemudian terbentuk pada tanggal 29 April 1945, tetapi baru dilantik pada tanggal 28 Mei 1945.</p>
<p>Dengan terbentuknya badan penyelidik ini bangsa Indonesia dapat secara legal mempersiapkan kemerdekaannya, yaitu dengan merumuskan syaratsyarat apa yang harus dipenuhi sebagai negara yang merdeka. Oleh karena itu, peristiwa ini kita jadikan suatu tonggak sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai cita-citanya, yang dipimpin oleh Dr. Radjiman Wediodiningrat.</p>
<p>Dalam sidang pertama Dr. Radjiman membuka pembicaraan dengan meminta anggota agar memaparkan pendapat mereka tentang apa yang akan dijadikan dasar Indonesia merdeka. Para pemimpin bangsa pada waktu itu menolak baik individualisme, liberalisme maupun komunisme sebagai dasar negara Indonesia merdeka.</p>
<p>Ada tiga tokoh yang mengemukakan pendapatnya mengenai dasar Negara Indonesia merdeka dan mendapat perhatian istemewa dalam sidang BPUPKI tersebut. Ketiga tokoh itu adalah pendapat Ir. Soekarno, Muhammad Yamin dan Mr. Supomo. Ketiganya mengusulkan hal yang pada intinya sama, yaitu agar Indonesia merdeka dibangun atas lima sila yang isinya hampir sama, tetapi dengan rumusan yang berbeda-beda.</p>
<p><strong>a. Muhammad Yamin</strong></p>
<p>Dalam pidatonya tanggal 29 Mei 1945 Muhammad Yamin mengusulkan lima asas dan dasar negara kebangsaan Republik Indonesia sebagai berikut.</p>
<p>1) Perikebangsaan</p>
<p>2) Perikemanusiaan</p>
<p>3) Periketuhanan</p>
<p>4) Perikerakyatan</p>
<p>5) Kesejahteraan rakyat/keadilan sosial</p>
<p><strong>b. Mr. Supomo</strong></p>
<p>Pada tanggal 31 Mei 1945 Mr. Supomo menyampaikan penjelasannya tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan dasar negara. Ia juga mengemukakan lima dasar negara Indonesia merdeka seperti berikut.</p>
<p>1) Persatuan</p>
<p>2) Kekeluargaan</p>
<p>3) Keseimbangan lahir dan batin</p>
<p>4) Musyawarah</p>
<p>5) Keadilan rakyat</p>
<p><strong>c. Ir. Soekarno</strong></p>
<p>Pada tanggal 1 Juni 1945, Ir. Soekarno mengucapkan pidatonya dihadapan sidang BPUPKI. Dalam pidatonya tersebut Ir. Soekarno mengajukan secara lisan usulan lima asas sebagai dasar negara Indonesia yang akan dibentuk, yaitu:</p>
<p>1) Kebangsaan Indonesia</p>
<p>2) Internasionalisme atau perikemanusiaan</p>
<p>3) Mufakat atau demokrasi</p>
<p>4) Kesejahteraan atau keadilan sosial</p>
<p>5) Ketuhanan Yang Maha Esa</p>
<p>Untuk usulan tentang rumusan dasar negara tersebut. Beliau mengajukan usul agar dasar negara tersebut diberi nama “Pancasila”. Usul mengenai nama “Pancasila” sebagai dasar negara tersebut secara bulat diterima oleh sidang BPUPKI.</p>
<p>Pada tanggal 22 Juni 1945 setelah sidang pertama, BPUPKI membentuk sebuah panitia yang terdiri atas sembilan orang anggota BPUPKI atau dikenal juga dengan nama Panitia Sembilan. Salah satu tugas Panitia Sembilan adalah memberikan usul-usul baik lisan maupun tulisan serta membahas dan merumuskan dasar negara Indonesia merdeka.</p>
<p>Panitia Sembilan menghasilkan dokumen yang berisikan tujuan dan maksud pendirian negara Indonesia merdeka, yang akhirnya diterima dengan suara bulat dan ditandatangani. Dokumen tersebut dikenal sebagai Piagam Jakarta (Jakarta Charter).</p>
<p>Panitia Sembilan beranggotakan:</p>
<p>a. Ir. Soekarno (ketua)</p>
<p>b. Mohammad Hatta (wakil ketua)</p>
<p>c. K.H. Wachid Hasyim</p>
<p>d. K.H. Agus Salim</p>
<p>e. Achmad Subarjo</p>
<p>f. Abikusno Cokrosuyoso</p>
<p>g. A.A. Maramis</p>
<p>h. Abdul Kahar Mudzakir</p>
<p>i. Muhammad Yamin</p>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="2" height="6"></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p><strong>Gambar 1.1 </strong><em>Nilai juang bangsa Indonesia dari para tokoh pendiri bangsa</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Pada tanggal 10 sampai dengan 16 Juli 1945 perumusan terakhir materi Pancasila sebagai dasar filsafat negara dilakukan dalam sidang BPUPKI yang ke dua, di mana telah dibahas rancangan Undang-Undang Dasar melalui suatu panitia perancang Undang-Undang Dasar yang diketuai oleh Ir. Soekarno. Panitia tersebut kemudian membentuk Panitia Kecil perancang Undang- Undang Dasar beranggotakan tujuh orang, yaitu:</p>
<p>a. Mr. Supomo</p>
<p>b. Mr. Wongsonegoro</p>
<p>c. Achmad Subarjo</p>
<p>d. A.A. Maramis</p>
<p>e. Mr. R.P. Singgih</p>
<p>f. K.H. Agus Salim</p>
<p>g. dr. Sukiman</p>
<p>Kewajiban Panitia Kecil ini adalah merancang UUD dengan memerhatikan pendapat-pendapat yang diajukan di rapat besar dan rapat panitia perancang UUD. Dalam rapat panitia perancang UUD, diambil keputusan mengenai:</p>
<p>a. Bentuk negara unitarisme (kesatuan).</p>
<p>b. Preambule atau pembukaan setuju diambil dari Jakarta Charter (Piagam Jakarta).</p>
<p>c. Kepala negara satu orang.</p>
<p>d. Nama kepala negara adalah presiden.</p>
<p>Hasil perumusan Panitia Kecil disempurnakan bahasanya oleh sebuah panitia lain, yang terdiri atas:</p>
<p>a. Mr. Supomo</p>
<p>b. K.H. Agus Salim</p>
<p>c. Prof. Dr. P.A. Husein Jayadiningrat</p>
<p><strong>2. Perubahan Piagam Jakarta</strong></p>
<p>Di dalam merumuskan Undang-Undang Dasar, menggunakan Piagam Jakarta sebagai konsep perumusannya, yang mengandung pula perumusan dasar filsafat negara, yang kemudian dikenal dengan nama Pancasila.</p>
<p>Selanjutnya pada tanggal 7 Agustus 1945 panglima bala tentara Jepang di Asia Tenggara yang bermarkas besar di Dalat, Saigon mengumumkan pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), sebagai pengganti Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). PPKI bertugas mempercepat segala usaha yang berhubungan dengan persiapan terakhir guna membentuk pemerintahan Republik Indonesia.</p>
<p>Para anggota di dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) itu digerakkan oleh pemerintah, sedangkan mereka diizinkan melakukan segala sesuatunya menurut pendapat dan kesanggupan bangsa Indonesia sendiri, tetapi di dalam melakukan kewajibannya itu mereka diwajibkan memerhatikan hal-hal sebagai berikut.</p>
<p>a. Syarat pertama untuk mencapai kemerdekaan ialah menyelesaikan perang yang sekarang sedang dihadapi bangsa Indonesia. Karena itu, harus mengerahkan tenaga sebesar-besarnya, dan bersama-sama dengan pemerintah Jepang meneruskan perjuangan untuk memperoleh kemenangan akhir dalam perang Asia Timur Raya.</p>
<p>b. Kemerdekaan negara Indonesia itu merupakan anggota lingkungan kemakmuran bersama di Asia Timur Raya, maka cita-cita bangsa Indonesia itu harus disesuaikan dengan cita-cita pemerintah Jepang.</p>
<p>Anggota PPKI terdiri atas Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, B.P.H. Purboyo, Dr. Radjiman Wediodiningrat, Sutarjo Kartohadikusumo, Andi Pangerang, Mr. I.G.K. Puja, dr. Mohammad Amir, Otto Iskandardinata, R. Panji Suroso, P.B.K.A. Suryohamijoyo, Ki Bagus Hadikusumo, Mr. Abdul Abas, Dr. J. Latuharhary, A.A. Hamidhan, Abdul Kadir, Mr. Supomo, K.H. Wachid Hasyim, Dr. Teuku Mohammad Hassan, Dr. G.S.J.J Ratulangi, Drs. Cawan Bing. Selain itu, Achmad Subarjo diangkat sebagai penasihat khusus panitia itu.</p>
<p>Pada tanggal 14 Agustus 1945 S.M. Kartosuwiryo memproklamasikan Darul Islam di daerah yang terbatas. Namun, kemudian ia menarik kembali proklamasinya sesudah mendengar pernyataan kemerdekaan oleh Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta 17 Agustus 1945.</p>
<p>Tanggal 18 Agustus 1945 dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, seorang opsir Angkatan Laut Jepang (Ratulangi) minta kepada Hatta supaya Piagam Jakarta dicoret dari pembukaan UUD 1945, karena kalau tidak, kemungkinan golongan Kristen dan Katolik di Indonesia Timur akan berdiri di luar republik. Maka Hatta berhasil melobi kelompok Islam sehingga dapat memperoleh persetujuan mereka untuk menghapuskan ketujuh kata dalam Piagam Jakarta (dengan menjalankan syariat Islam bagi pemelukpemeluknya).</p>
<p>Alasannya, ada keberatan oleh pihak lain yang tidak beragama Islam. Menurut pendapat mereka, tidak tepat di dalam suatu pernyataan pokok yang mengenai seluruh bangsa ditempatkan suatu penetapan yang hanya mengenai sebagian saja daripada rakyat Indonesia, sekalipun bagian itu bagian terbesar. Dengan demikian tidak lagi terdapat tujuh kata yang mewajibkan umat Islam untuk menjalankan syariat agama Islam, juga tidak ada lagi ketentuan bahwa presiden harus seorang Islam.</p>
<p>Dari uraian di atas, terlihat begitu besar perjuangan para tokoh-tokoh bangsa untuk mendapatkan kemerdekaan. Mereka sangat memikirkan masa depan bangsa dengan merumuskan UUD 1945 dan dasar negara Pancasila.</p>
<p>Dalam proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara terdapat nilai- nilai juang dan sebagai warga negara yang baik kita harus mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai juang tersebut antara lain:</p>
<p>a. Mementingkan kepentingan umum (bangsa) daripada kepentingan pribadi.</p>
<p>b. Memperjuangkan dan menegakkan hak asasi manusia.</p>
<p>c. Rasa cinta tanah air.</p>
<p>d. Persatuan dan kesatuan.</p>
<p>Dapatkah kamu menyebutkan nilai-nilai juang yang lainnya?</p>
<p><strong>VII. Metode Pembelajaran</strong></p>
<p><strong> </strong>Metode pembelajaran kooperatif (diskusi)</p>
<p>Model pembelajaran ceramah</p>
<p><strong>VIII. Kegiatan Pembelajaran</strong></p>
<p><strong>Pertemuan pertama</strong></p>
<p>Kegiatan awal</p>
<ol>
<li>Guru membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam</li>
<li>Guru melakukan absensi kehadiran siswa</li>
</ol>
<p>Apersepsi</p>
<ol>
<li>Dengan menunjukkan gambar Pancasila, siswa diminta mengamati gambar.</li>
<li>Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa belajar. (fase 1).</li>
</ol>
<p>Kegiatan inti</p>
<ol>
<li>Guru mengajukan beberapa pertanyaan kepada peserta didik.
<ol>
<li>Tahukah kamu bunyi “Pancasila”?</li>
<li>Kapan Pancasila itu ada?</li>
<li>Siapakah yang menciptakan Pancasila?</li>
<li>Bagaimana proses perumusan Pancasila?</li>
<li>Guru menguraikan sejarah proses perumusan Pancasila, lahirnya istilah Pancasila, pelaksanaan sidang BPUPKI, rumusan Pancasila yang sah, dan piagam Jakarta. (fase 2).</li>
<li>Melalui penjelasan guru yang didengar, siswa mencatat hal- hal penting.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>Kegiatan akhir</p>
<ol>
<li>Dengan bimbingan guru, siswa membuat kesimpulan berdasarkan hal- hal penting yang dicatat.</li>
<li>Sebagai pemantapan pemahaman untuk pertemuan berikutnya, guru menugaskan siswa untuk mempelajari materi dirumah.</li>
<li>Guru mengakhiri pembelajaran dengan mengucapkan salam.</li>
</ol>
<p><strong>Pertemuan kedua</strong></p>
<p>Kegiatan awal</p>
<ol>
<li>Guru membuka dengan mengucapkan salam.</li>
<li>Guru melakukan absensi kehadiran siswa.</li>
</ol>
<p>Apersepsi</p>
<ol>
<li>Guru menanyakan kesiapan siswa dan mempolakan materi yang telah ditugaskan untuk dipelajari di rumah.</li>
<li>Guru menginformasikan tujuan pembelajaran.</li>
</ol>
<p>Kegiatan inti</p>
<ol>
<li>Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok yaitu dalam satu kelas dibagi menjadi tiga kelompok dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien. (fase 3).</li>
<li>Tiga kelompok yang dibagi guru adalah:
<ol>
<li>Kelompok I dinamakan “Muh. Yamin” mendiskusikan tentang rumusan dasar Negara yang dikemukakan Muh. Yamin.</li>
<li>Kelompok II dinamakan ”<em>Supomo</em>” mendiskusikan tentang rumusan dasar negara yang dikemukakan Supomo.</li>
<li>Kelompok III dinamakan ”<em>Sukarno</em>” mendiskusikan tentang rumusan</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>dasar negara yang dikemukakan Sukarno.</p>
<ol>
<li>Guru membimbing ketiga kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka. (fase 4).</li>
</ol>
<p>Kegiatan akhir</p>
<ol>
<li>Masing- masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya secara bergantian, dengan bimbingan guru, kelompok penyimak mendengarkan hasil presentasi kelompok yang maju.</li>
<li>Dengan bimbingan guru, siswa mengevaluasi hasil diskusi. (fase 5)</li>
<li>Guru bersama siswa memberikan aplous kepada kelompok terbaik. (fase 6).</li>
<li>Guru memberikan soal sebagai pemantapan pemahaman siswa.</li>
<li>Pengumpulan soal yang selesai dikerjakan.</li>
<li>Guru mengakhiri kegiatan pembelajaran dengan mengucapakan salam.</li>
</ol>
<p><strong>IX. Sumber belajar dan Media</strong></p>
<p>Sumber belajar</p>
<ul>
<li>Dewi, Ressi Kartika. 2007. <em>Pendidikan Kewarganegaraan 6: untuk SD/ MI kelas VI. </em>Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.</li>
<li>Sunarso. 2008. <em>Pendidikan kewarganegaraan 6: untuk SD/MI kelas VI.</em> Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.</li>
<li>Widihastuti, Setiati. 2008. <em>Pendidikan Kewarganegaraan : SD/MI kelas VI.</em> Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.</li>
</ul>
<p>Media</p>
<p>Gambar pancasila</p>
<p><strong>X. Penilaian</strong></p>
<p>Teknik</p>
<ul>
<li>Tertulis</li>
<li>Lisan</li>
<li>Perbuatan</li>
</ul>
<p>Bentuk</p>
<ul>
<li>PG</li>
<li>Isian</li>
<li>Essay</li>
<li>Porto Folio</li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Mengetahui</p>
<p>Kepalan SDN KEDUNGGEDE I                                                                              Guru kelas VI</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Drs. Nurkhasan. S.Ag</span></strong><strong> <span style="text-decoration:underline;">M. Nuruddin</span></strong></p>
<p><strong>NIP. 130344565                                                            NIM. 071644036</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Lembar Kegiatan Siswa 1</strong></p>
<p><strong>Nama                     :</strong></p>
<p><strong>Kelas                       :</strong></p>
<p><strong>No Absen              :</strong></p>
<p><strong>Silanglah jawaban yang benar!</strong></p>
<p>1. Rumusan Pancasila yang dipakai sampai sekarang adalah &#8230;.</p>
<p>a. rumusan Mr. Muhammad Yamin</p>
<p>b. rumusan Piagam Jakarta</p>
<p>c. rumusan Ir. Soekarno</p>
<p>d. rumusan Pembukaan UUD 1945</p>
<p>2. Semua bentuk penjajahan di muka bumi harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan &#8230;.</p>
<p>a. perjanjian dan peraturan</p>
<p>b. persatuan dan kesatuan</p>
<p>c. perikamanusiaan dan perikeadilan</p>
<p>d. kesepakatan bersama</p>
<p>3. PPKI menetapkan UUD 1945 sebagai konstitusi RI pada tanggal &#8230;.</p>
<p>a. 16 Agustus 1945</p>
<p>b. 17 Agustus 1945</p>
<p>c. 18 Agustus 1945</p>
<p>d. 19 Agustus 1945</p>
<p>4. Di bawah ini adalah nama-nama tokoh yang mengemukakan pendapatnya tentang dasar negara, <em>kecuali </em>&#8230;.</p>
<p>a. Mr. A.A. Maramis</p>
<p>b. Prof. Dr. Mr. Supomo</p>
<p>c. Mr. Muh. Yamin</p>
<p>d. Ir. Soekarno</p>
<p>5. Ketua BPUPKI adalah &#8230;.</p>
<p>a. Radjiman Wedyodiningrat</p>
<p>b. Ir. Sukarno</p>
<p>c. Moh. Hatta</p>
<p>d. Muh. Yamin</p>
<p><strong>Kunci Jawaban Lembar Kegiatan Siswa 1</strong></p>
<p><strong>Silanglah jawaban yang benar!</strong></p>
<p>1. Rumusan Pancasila yang dipakai sampai sekarang adalah &#8230;.</p>
<p>d. rumusan Pembukaan UUD 1945</p>
<p>2. Semua bentuk penjajahan di muka bumi harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan &#8230;.</p>
<p>c. perikamanusiaan dan perikeadilan</p>
<p>3. PPKI menetapkan UUD 1945 sebagai konstitusi RI pada tanggal &#8230;.</p>
<p>c. 18 Agustus 1945</p>
<p>4. Di bawah ini adalah nama-nama tokoh yang mengemukakan pendapatnya tentang dasar negara, <em>kecuali </em>&#8230;.</p>
<p>a. Mr. A.A. Maramis</p>
<p>5. Ketua BPUPKI adalah &#8230;.</p>
<p>a. Radjiman Wedyodiningrat</p>
<p><strong>Catatan:</strong></p>
<p><strong>Skala penilaian </strong></p>
<p><strong>Benar × 20 = Nilai</strong></p>
<p><strong>Lembar Kegiatan Siswa 2</strong></p>
<p><strong>Nama                     :</strong></p>
<p><strong>Kelas                       :</strong></p>
<p><strong>No Absen              :</strong></p>
<p><strong>Isilah titik- titik dibawah ini!</strong></p>
<ol>
<li>Dokumen yang berisikan tujuan dan maksud pendirian Negara Indonesia merdeka yaitu ………………………………………………………………………………………….</li>
<li>Siapa yang bertugas memberikan usul baik lisan maupun tulisan serta membahas dan merumuskan dasar Negara Indonesia ……………………………</li>
<li><em>Dokuritsu junbi cosakai </em>dibentuk tanggal berapa ……………………………………<em> </em></li>
<li><em>Dokuritsu junbi cosakai </em>dipimpin oleh siapa ……………………………………………</li>
<li>Ada berapa tokoh yang mengemukakan pendapatnya mengenai dasar Negara Indonesia merdeka …………………..…………………………………………………</li>
<li>Panitia Sembilan dibentuk tanggal berapa ………………………………………………</li>
<li>Panitia perancang Undang- Undang Dasar diketuai oleh siapa ………………..</li>
<li>Salah satu anggota PPKI adalah ……………………………………………………………….</li>
<li>Ketujuh kata yang dihapus dalam piagam Jakarta adalah ………………………..</li>
<li>Sebutkan salah satu nilai juang dalam proses perumusan Pancasila…………</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kunci Jawaban Lembar Kegiatan Siswa 2</strong></p>
<p><strong>Isilah titik- titik dibawah ini!</strong></p>
<ol>
<li>Dokumen yang berisikan tujuan dan maksud pendirian Negara Indonesia merdeka yaitu [Piagam Jakarta (Jakarta Charter)]</li>
<li>Siapa yang bertugas memberikan usul baik lisan maupun tulisan serta membahas dan merumuskan dasar Negara Indonesia [Panitia Sembilan]</li>
<li><em>Dokuritsu junbi cosakai </em>dibentuk tanggal berapa  [29 April 1945]<em> </em></li>
<li><em>Dokuritsu junbi cosakai </em>dipimpin oleh siapa[Dr. Radjiman Wediodiningrat]</li>
<li>Ada berapa tokoh yang mengemukakan pendapatnya mengenai dasar Negara Indonesia merdeka [tiga]</li>
<li>Panitia Sembilan dibentuk tanggal berapa [22 Juni 1945]</li>
<li>Panitia perancang Undang- Undang Dasar diketuai oleh siap [Ir. Soekarno]</li>
<li>Salah satu anggota PPKI adalah  [Mohammad Hatta]</li>
<li>Ketujuh kata yang dihapus dalam piagam Jakarta adalah  [dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluk- pemeluknya]</li>
<li>Sebutkan salah satu nilai juang dalam proses perumusan Pancasila [rasa cinta tanah air]</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Catatan</strong></p>
<p><strong>Skala Penilaian </strong></p>
<p><strong>Benar × 10 = Nilai</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Lembar Kegiatan Siswa 3</strong></p>
<p><strong>Nama                     :</strong></p>
<p><strong>Kelas                       :</strong></p>
<p><strong>No Absen              :</strong></p>
<p><strong>Jelaskan secara singkat!</strong></p>
<ol>
<li>Kemukakan nilai- nilai juang dalam proses perumusan Pancasila yang dapat kita amalkan dalam lehidupan sehari- hari?</li>
<li>Mengapa ketujuh kata dalam Piagam Jakarta (dengan menjalankan syariat Islam bagi para pemeluk- pemeluknya.?</li>
<li>Jelaskan dokumen apa yang dihasilkan oleh Panitia Sembilan?</li>
</ol>
<p><strong>Kunci Jawaban Lembar Kegiatan Siswa 3</strong></p>
<p><strong>Jelaskan secara singkat!</strong></p>
<ol>
<li>Kemukakan nilai- nilai juang dalam proses perumusan Pancasila yang dapat kita amalkan dalam lehidupan sehari- hari?
<ol>
<li>Mementingkan kepentingan umum (bangsa) daripada kepentingan pribadi.</li>
<li>Memperjuangkan dan menegakkan hak asasi manusia.</li>
<li>Rasa cinta tanah air.</li>
<li>Persatuan dan kesatuan.</li>
<li>Mengapa ketujuh kata dalam Piagam Jakarta (dengan menjalankan syariat Islam bagi para pemeluk- pemeluknya.?</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>Alasannya, ada keberatan oleh pihak lain yang tidak beragama Islam. Menurut pendapat mereka, tidak tepat di dalam suatu pernyataan pokok yang mengenai seluruh bangsa ditempatkan suatu penetapan yang hanya mengenai sebagian saja daripada rakyat Indonesia, sekalipun bagian itu bagian terbesar. Dengan demikian tidak lagi terdapat tujuh kata yang mewajibkan umat Islam untuk menjalankan syariat agama Islam, juga tidak ada lagi ketentuan bahwa presiden harus seorang Islam.</p>
<ol>
<li>Jelaskan dokumen apa yang dihasilkan oleh Panitia Sembilan?</li>
</ol>
<p>Panitia Sembilan menghasilkan dokumen yang berisikan tujuan dan maksud pendirian negara Indonesia merdeka, yang akhirnya diterima dengan suara bulat dan ditandatangani. Dokumen tersebut dikenal sebagai Piagam Jakarta (Jakarta Charter).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Catatan</strong></p>
<p><strong>Skala penilaian </strong></p>
<p><strong>Benar × 33,33 = Nilai</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tugas Portofolio Kelompok</strong></p>
<p><strong>Nama kelompok                  :</strong></p>
<p><strong>Nama Anggota Kelompok  :</strong></p>
<p><strong>1.                                                                            5.</strong></p>
<p><strong>2.                                                                            6.</strong></p>
<p><strong>3.                                                                            7.</strong></p>
<p><strong>4.                                                                            8.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Hasil Diskusi Kelompok</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kunci Jawaban Tugas Portofolio Kelompok</strong></p>
<p><strong>Hasil Diskusi Kelompok</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Catatan</strong></p>
<p><strong>Skala Penilaian</strong></p>
<p><strong>100 = Istimewa</strong></p>
<p><strong>90   =  Baik sekali</strong></p>
<p><strong>80   = Baik</strong></p>
<p><strong>70  = Lebih dari cukup</strong></p>
<p><strong>60  = Cukup</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kriteria Lembar Penilaian Aspek Psikomotor</strong></p>
<p><strong>Satuan Pendidikan               : SDN KEDUNGGEDE I</strong></p>
<p><strong>Mata Pelajaran     : Pendidikan Kewarganegaraan</strong></p>
<p><strong>Kelas/ Semester  : VI/ 1</strong></p>
<p><strong>Standar Kompetensi          : </strong>1. Menghargai nilai- nilai juang dalam proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara.</p>
<p><strong>Kompetensi Dasar              : </strong>1.1. Mendeskripsikan nilai- nilai juang dalam proses perumusan Pancasila sebagai dasar Negara.</p>
<p><strong> </strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="585">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" width="35"><strong>No</strong></td>
<td rowspan="2" width="182"><strong>Nama</strong></td>
<td colspan="5" width="327"><strong>Skor Aspek   Psikomotor</strong></td>
<td rowspan="2" width="41"><strong>NA</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="76"><strong>Memposisikan</strong></td>
<td width="66"><strong>Merancang</strong></td>
<td width="57"><strong>Keaktifan</strong></td>
<td width="68"><strong>Kerjasama</strong></td>
<td width="60"><strong>Presentasi</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">1</td>
<td width="182" valign="top"></td>
<td width="76" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="57" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="60" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">2</td>
<td width="182" valign="top"></td>
<td width="76" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="57" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="60" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">3</td>
<td width="182" valign="top"></td>
<td width="76" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="57" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="60" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">4</td>
<td width="182" valign="top"></td>
<td width="76" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="57" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="60" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">5</td>
<td width="182" valign="top"></td>
<td width="76" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="57" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="60" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">6</td>
<td width="182" valign="top"></td>
<td width="76" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="57" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="60" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">7</td>
<td width="182" valign="top"></td>
<td width="76" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="57" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="60" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">8</td>
<td width="182" valign="top"></td>
<td width="76" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="57" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="60" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">9</td>
<td width="182" valign="top"></td>
<td width="76" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="57" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="60" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">10</td>
<td width="182" valign="top"></td>
<td width="76" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="57" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="60" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">11</td>
<td width="182" valign="top"></td>
<td width="76" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="57" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="60" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">12</td>
<td width="182" valign="top"></td>
<td width="76" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="57" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="60" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">13</td>
<td width="182" valign="top"></td>
<td width="76" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="57" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="60" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">14</td>
<td width="182" valign="top"></td>
<td width="76" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="57" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="60" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">15</td>
<td width="182" valign="top"></td>
<td width="76" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="57" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="60" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">16</td>
<td width="182" valign="top"></td>
<td width="76" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="57" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="60" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">17</td>
<td width="182" valign="top"></td>
<td width="76" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="57" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="60" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">18</td>
<td width="182" valign="top"></td>
<td width="76" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="57" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="60" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">19</td>
<td width="182" valign="top"></td>
<td width="76" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="57" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="60" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">20</td>
<td width="182" valign="top"></td>
<td width="76" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="57" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="60" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top"></td>
<td width="182" valign="top"></td>
<td width="76" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="57" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="60" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kriteria Penilaian:</strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="130" valign="top"><strong>KUALITAS</strong></td>
<td width="76" valign="top"><strong>NILAI</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="130" valign="top">Sangat Baik</td>
<td width="76" valign="top">9</td>
</tr>
<tr>
<td width="130" valign="top">Baik</td>
<td width="76" valign="top">8</td>
</tr>
<tr>
<td width="130" valign="top">Cukup</td>
<td width="76" valign="top">7</td>
</tr>
<tr>
<td width="130" valign="top">Kurang</td>
<td width="76" valign="top">6</td>
</tr>
<tr>
<td width="130" valign="top">Sangat Kurang</td>
<td width="76" valign="top">5</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kriteria Lembar Penilaian Aspek Afektif</strong></p>
<p><strong>Satuan Pendidikan               : SDN KEDUNGGEDE I</strong></p>
<p><strong>Mata Pelajaran     : Pendidikan Kewarganegaraan</strong></p>
<p><strong>Kelas/ Semester  : VI/ 1</strong></p>
<p><strong>Standar Kompetensi          : </strong>1. Menghargai nilai- nilai juang dalam proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara.</p>
<p><strong>Kompetensi Dasar              : </strong>1.1. Mendeskripsikan nilai- nilai juang dalam proses perumusan Pancasila sebagai dasar Negara.</p>
<p><strong> </strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="585">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" width="35"><strong>No</strong></td>
<td rowspan="2" width="203"><strong>Nama</strong></td>
<td colspan="5" width="306"><strong>Skor Aspek Afektif</strong></td>
<td rowspan="2" width="41"><strong>NA</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="64"><strong>Sikap</strong></td>
<td width="66"><strong>Minat</strong></td>
<td width="68"><strong>Konsep diri</strong></td>
<td width="55"><strong>Nilai</strong></td>
<td width="53"><strong>Moral</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">1</td>
<td width="203" valign="top"></td>
<td width="64" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="55" valign="top"></td>
<td width="53" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">2</td>
<td width="203" valign="top"></td>
<td width="64" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="55" valign="top"></td>
<td width="53" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">3</td>
<td width="203" valign="top"></td>
<td width="64" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="55" valign="top"></td>
<td width="53" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">4</td>
<td width="203" valign="top"></td>
<td width="64" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="55" valign="top"></td>
<td width="53" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">5</td>
<td width="203" valign="top"></td>
<td width="64" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="55" valign="top"></td>
<td width="53" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">6</td>
<td width="203" valign="top"></td>
<td width="64" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="55" valign="top"></td>
<td width="53" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">7</td>
<td width="203" valign="top"></td>
<td width="64" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="55" valign="top"></td>
<td width="53" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">8</td>
<td width="203" valign="top"></td>
<td width="64" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="55" valign="top"></td>
<td width="53" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">9</td>
<td width="203" valign="top"></td>
<td width="64" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="55" valign="top"></td>
<td width="53" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">10</td>
<td width="203" valign="top"></td>
<td width="64" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="55" valign="top"></td>
<td width="53" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">11</td>
<td width="203" valign="top"></td>
<td width="64" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="55" valign="top"></td>
<td width="53" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">12</td>
<td width="203" valign="top"></td>
<td width="64" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="55" valign="top"></td>
<td width="53" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">13</td>
<td width="203" valign="top"></td>
<td width="64" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="55" valign="top"></td>
<td width="53" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">14</td>
<td width="203" valign="top"></td>
<td width="64" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="55" valign="top"></td>
<td width="53" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">15</td>
<td width="203" valign="top"></td>
<td width="64" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="55" valign="top"></td>
<td width="53" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">16</td>
<td width="203" valign="top"></td>
<td width="64" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="55" valign="top"></td>
<td width="53" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">17</td>
<td width="203" valign="top"></td>
<td width="64" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="55" valign="top"></td>
<td width="53" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">18</td>
<td width="203" valign="top"></td>
<td width="64" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="55" valign="top"></td>
<td width="53" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">19</td>
<td width="203" valign="top"></td>
<td width="64" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="55" valign="top"></td>
<td width="53" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top">20</td>
<td width="203" valign="top"></td>
<td width="64" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="55" valign="top"></td>
<td width="53" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35" valign="top"></td>
<td width="203" valign="top"></td>
<td width="64" valign="top"></td>
<td width="66" valign="top"></td>
<td width="68" valign="top"></td>
<td width="55" valign="top"></td>
<td width="53" valign="top"></td>
<td width="41" valign="top"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kriteria Penilaian:</strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="130" valign="top"><strong>KUALITAS</strong></td>
<td width="76" valign="top"><strong>NILAI</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="130" valign="top">Sangat Baik</td>
<td width="76" valign="top">9</td>
</tr>
<tr>
<td width="130" valign="top">Baik</td>
<td width="76" valign="top">8</td>
</tr>
<tr>
<td width="130" valign="top">Cukup</td>
<td width="76" valign="top">7</td>
</tr>
<tr>
<td width="130" valign="top">Kurang</td>
<td width="76" valign="top">6</td>
</tr>
<tr>
<td width="130" valign="top">Sangat Kurang</td>
<td width="76" valign="top">5</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Media Pembelajaran</strong></p>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="0" height="0"></td>
<td width="34"></td>
<td width="54"></td>
<td width="338"></td>
<td width="72"></td>
<td width="53"></td>
</tr>
<tr>
<td height="397"></td>
<td colspan="2"></td>
<td align="left" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td height="55"></td>
</tr>
<tr>
<td height="673"></td>
<td></td>
<td colspan="3" align="left" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td height="211"></td>
</tr>
<tr>
<td height="584"></td>
<td colspan="5" align="left" valign="top"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhnuruddin.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhnuruddin.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhnuruddin.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhnuruddin.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhnuruddin.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhnuruddin.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhnuruddin.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhnuruddin.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhnuruddin.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhnuruddin.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhnuruddin.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhnuruddin.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhnuruddin.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhnuruddin.wordpress.com/41/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhnuruddin.wordpress.com&amp;blog=9961915&amp;post=41&amp;subd=muhnuruddin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhnuruddin.wordpress.com/2009/12/10/1-agama-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ff24a6484843b6dd35cfdf08ac438b79?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">muhnuruddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Arek Mojokerto</title>
		<link>http://muhnuruddin.wordpress.com/2009/10/16/hello-world/</link>
		<comments>http://muhnuruddin.wordpress.com/2009/10/16/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 03:46:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muhnuruddin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Selamat datang di kota tempat kelahiran saya.Mojokerto mempunyai deskripsi yang unik. Silahkan klik Mojokerto untuk mengetahui lebih jauh.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhnuruddin.wordpress.com&amp;blog=9961915&amp;post=1&amp;subd=muhnuruddin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selamat datang di kota tempat kelahiran saya.Mojokerto mempunyai deskripsi yang unik. Silahkan klik <a href="http://www.google.co.id/url?sa=t&amp;source=web&amp;ct=res&amp;cd=10&amp;ved=0CCEQFjAJ&amp;url=http%3A%2F%2Fid.wikipedia.org%2Fwiki%2FKabupaten_Mojokerto&amp;rct=j&amp;q=mojokerto&amp;ei=EFogS4O-L9egkQX-wu3bCg&amp;usg=AFQjCNECKy5RAdCbi5t3OI1GYRdaePDlSA">Mojokerto</a> untuk mengetahui lebih jauh.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhnuruddin.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhnuruddin.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhnuruddin.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhnuruddin.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhnuruddin.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhnuruddin.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhnuruddin.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhnuruddin.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhnuruddin.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhnuruddin.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhnuruddin.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhnuruddin.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhnuruddin.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhnuruddin.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhnuruddin.wordpress.com&amp;blog=9961915&amp;post=1&amp;subd=muhnuruddin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhnuruddin.wordpress.com/2009/10/16/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ff24a6484843b6dd35cfdf08ac438b79?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">muhnuruddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
